Sabtu, 10 Juni 2017

ARTISISASI ULAMA' NU



Tulisan ini ditulis, karena rasa gelisah penulis akibat maraknya Ustadz-ustadz “seleb” yang muncul di pertelevisian Indonesia, mengapa Ustadz seleb? Karena untuk menjadi ustadz yang bisa tampil di televisi, ada beberapa aspek penting yang harus di penuhi, yang tentunya aspek “Alim” menempati syarat kesekian. hal tersebut bersamaan dengan kondisi  Bangsa Indonesia yang sedang dilanda sakit toleransi ber-agama, dibilang sakit karena fenomena ini timbul pada saat-saat tertentu utamanya ketika ada hajatan politik, biasanya penyakit ini sembuh bersamaan dengan berakhirnya hajatan politik. Secara geografis konflik intoleransi ber-agama sebenarnya timbul di Jakarta karena adanya pasangan calon kepalas Daerah yang ber-agama non muslim ditambah kasus penistaan agama yang membelitnya, namun diakui atau tidak masalahnya ini merembet keluar daerah Jakarta. Pengaruh media massa tentunya membuat berita ini menjadi ”Hot News”.  
Kedua permasalahan diatas mempuyai keterkaitan pemecahan masalah (problem solving). Progam – progam religi yang tayang ditelevisi selama ini menayangkan syiar agama yang ber-temakan Ibadah mahdhah/ghairu mahdhah, solusi kekeluargaan, percintaan Islami, halal-haram dsb. Jarang ditemui bagaimana seorang da’I di televisi menyampaikan solusi-solusi konkrit tentang ajaran agama Islam terkait permasalahan Islam dan Nasionalisme,Islam inklusif, jihad dalam konteks dewasa ini misalnya, hal ini penting rasanya mengingat maraknya fenomena-fenomena pengkafiran sesama muslim,gerakan khilafah hingga sekarang berjalan masif,aksi teroirisme berkedok agama Islam masih nyata adanya. Sehingga ada benang merah antara ajaran yang di dakwahkan dan objek permasalahan yang ada di akar rumput.
Nahdlatul Ulama’ sebagai solusi
Nadhlatul Ulama’ (NU) adalah organisasi dengan basis masa terbesar di Indonesia, hal ini dikarenakan sikapnya yang dikenal moderat,ramah dan Inklusif. Secara historis NU adalah salah satu organisasi yang mengawal dan ikut berjuang meraih kemerdekaan NKRI. NU juga tercatat sebagai organisasi masyarakat Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai ideologi Negara. Fakta tersebut membuat NU secara otomatis ikut bertanggung jawab terhadap keutuhan NKRI. NU  yang dulu dikenal sebagai kaum tradisionalis dan kolot yang sulit untuk bergerak maju mengikuti zaman, kini mulai mulai berbenah, didirikannya kampus-kampus (UNU), rumah sakit (Muslimat) radio Aswaja, TV 9 menandakan bahwa NU sudah mulai mampu menjawab tantangan zaman. Ulama’ulama’ NU yang terkenal moderat dan inklusif sudah saatnya turun ke gelanggang pertelevisian dan masuk ke media-media meanstream, dakwah ini akan sangat efektif dan mampu membentuk meanshet bangsa ini menjadi Bangsa yang kembali ramah seperti zaman nenek moyangnya. Penulis menilai cirri khas kemampuan dakwah secara ramah dengan referensi khazanah kitab ulama’-ulama’ klasik (kitab’at-turats) hanya dimiliki oleh ulama’-ulama’NU.

           
Share:
Lokasi: Semarang, Semarang City, Central Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar