Tulisan ini ditulis, karena rasa
gelisah penulis akibat maraknya Ustadz-ustadz “seleb” yang muncul di
pertelevisian Indonesia, mengapa Ustadz seleb? Karena untuk menjadi ustadz yang
bisa tampil di televisi, ada beberapa aspek penting yang harus di penuhi, yang
tentunya aspek “Alim” menempati syarat kesekian. hal tersebut bersamaan
dengan kondisi Bangsa Indonesia yang sedang
dilanda sakit toleransi ber-agama, dibilang sakit karena fenomena ini timbul
pada saat-saat tertentu utamanya ketika ada hajatan politik, biasanya penyakit
ini sembuh bersamaan dengan berakhirnya hajatan politik. Secara geografis
konflik intoleransi ber-agama sebenarnya timbul di Jakarta karena adanya
pasangan calon kepalas Daerah yang ber-agama non muslim ditambah kasus
penistaan agama yang membelitnya, namun diakui atau tidak masalahnya ini
merembet keluar daerah Jakarta. Pengaruh media massa tentunya membuat berita
ini menjadi ”Hot News”.
Kedua permasalahan diatas mempuyai
keterkaitan pemecahan masalah (problem solving). Progam – progam religi
yang tayang ditelevisi selama ini menayangkan syiar agama yang ber-temakan
Ibadah mahdhah/ghairu mahdhah, solusi kekeluargaan, percintaan Islami,
halal-haram dsb. Jarang ditemui bagaimana seorang da’I di televisi menyampaikan
solusi-solusi konkrit tentang ajaran agama Islam terkait permasalahan Islam dan
Nasionalisme,Islam inklusif, jihad dalam konteks dewasa ini misalnya, hal ini
penting rasanya mengingat maraknya fenomena-fenomena pengkafiran sesama
muslim,gerakan khilafah hingga sekarang berjalan masif,aksi teroirisme berkedok
agama Islam masih nyata adanya. Sehingga ada benang merah antara ajaran yang di
dakwahkan dan objek permasalahan yang ada di akar rumput.
Nahdlatul
Ulama’ sebagai solusi
Nadhlatul
Ulama’ (NU) adalah organisasi dengan basis masa terbesar di Indonesia, hal ini
dikarenakan sikapnya yang dikenal moderat,ramah dan Inklusif. Secara historis NU
adalah salah satu organisasi yang mengawal dan ikut berjuang meraih kemerdekaan
NKRI. NU juga tercatat sebagai organisasi masyarakat Islam pertama yang
menerima Pancasila sebagai ideologi Negara. Fakta tersebut membuat NU secara
otomatis ikut bertanggung jawab terhadap keutuhan NKRI. NU yang dulu dikenal sebagai kaum tradisionalis
dan kolot yang sulit untuk bergerak maju mengikuti zaman, kini mulai mulai
berbenah, didirikannya kampus-kampus (UNU), rumah sakit (Muslimat) radio
Aswaja, TV 9 menandakan bahwa NU sudah mulai mampu menjawab tantangan zaman.
Ulama’ulama’ NU yang terkenal moderat dan inklusif sudah saatnya turun ke
gelanggang pertelevisian dan masuk ke media-media meanstream, dakwah ini
akan sangat efektif dan mampu membentuk meanshet bangsa ini menjadi
Bangsa yang kembali ramah seperti zaman nenek moyangnya. Penulis menilai cirri
khas kemampuan dakwah secara ramah dengan referensi khazanah kitab
ulama’-ulama’ klasik (kitab’at-turats) hanya dimiliki oleh
ulama’-ulama’NU.
0 komentar:
Posting Komentar