“Kejauhan gak ya?”
“Pakai transportasi apa ya?”
“Bagaimana kami menjawab pertanyaan orang-orang tentang tempat lahiran kami yang jauh?”
“Apakah mental kami siap menghadapi orang-orang pasca lahiran?”
Pertanyaan di atas adalah bagian kecil yang menghantui pikiran kami sebelum memutuskan bersalin di klinik Mazaya. Sejujurnya pertanyaan di atas tak tuntas kami jawab dalam sekali sesi bincang. Butuh waktu, observasi, konsultasi ke banyak pihak juga pertimbangan internal maupun eksternal. Faktor terakhir yang membuat kami maju-mundur.
Tulisan ini akan menjelaskan beberapa alasan mengapa akhirnya kami memilih klinik Mazaya. Sebagai konteks klinik Mazaya terletak di Pulung Ponorogo, daerah pinggiran dataran tinggi, butuh waktu sekitar 40 menit dari rumah kami. Sementara banyak opsi yang relatif lebih dekat dari rumah kami, bahkan 100 meter dari rumah kami terdapat klinik yang cukup besar yang pemiliknya masih kerabat.
1. Progam hamil
Kami mengusahakan progam hamil setelah setahun lebih usia pernikahan istri belum dikaruniai hamil, berbagai usaha kami lakukan. Terakhir kami mendapat rekomendasi dari sanak famili untuk mengihtiarkan ke bidan UMI Mazaya. Qadarullah melalui wasilah Bu Umi biidznillah istri hamil. Berawal dari konsultasi itulah kami mulai berhitung untuk lahiran di Mazaya, mengingat dari awal progam hamil sampai proses mendekati lahiran kami konsultasi ke bu Umi. Awalnya kami merasa ada beban moril untuk lahiran di sini, mengingat kami berhasil promil berkat wasilah bantuan beliau, tetapi belakangan kami merasa bahwa kami memang cocok dengan klinik ini dalam hal apapun.
2. Bu Umi - Kak bidan
Dalam memilih Dokter/Bidan bersalin, komunikasi menjadi kunci utama mengingat ibu hamil hormonnya tidak stabil. Kami merasa cocok dengan sosok Bu Umi, pendekatan medis-agamis dibalut komunikasi santun dengan senyum khasnya berhasil memikat hati kami. Beliau selalu melibatkan Allah Swt dalam setiap fase progamnya, serta senantiasa menekankan keterlibatan peran suami di setiap fase hamil istri. Belakangan kami tahu gaya komunikasi seperti itu juga dilakukan kakak bidan-bidan Mazaya, mungkin semacam jadi SOP. Kami merasa dari awal Bu Umi beserta dan kakak bidan mencoba membangun bounding serta relasi yang menempatkan kami lebih dari sekedar provider dan customer melainkan keluarga yang siap berproses dengan ilmu, kasih sayang, serta tawakkal maksimal untuk buah hati kami. Hal yang sulit kami temui di klinik/ rumah sakit lain.
3. Bersalin alami/normal/pervaginam.
Dari awal hamil istri menginginkan lahiran normal, tanpa mengurangi derajat ibu yang dengan sengaja atau dituntut keadaan memilih SC. Istri ingin menjalani proses hamil-melahirkan secara alamiah. Fitrahnya ibu yang merasakan sakitnya tubuh selama hanil hingga mengejan saat lahiran. Kebetulan Mazaya menawarkan fasilitas itu, lahiran alami dengan teknik-teknik tertentu seperti akupuntur - moksa untuk merangsang bukaan hingga nafas perut untuk meminimalisir sakit saat bersalin. Dan yang paling penting Mazaya akan mengupayakan secara maksimal lahiran alami selama tidak ada penyakit yang mengharuskan SC. Banyak sekali riwayat persalinan lilitan,ketuban pecah,pinggul sempit hingga proges bukaan lambat dapat ditangani dengan baik. Sementara sependek pengamatan kami biasanya tatkala terdapat problem seperti di atas klinik/ RS terkait kebanyakan akan merujuk untuk operasi
4. Mengabaikan faktor eksternal.
Topik percakapan kami seputar tempat persalinan yang paling kompleks ternyata perihal faktor eksternal karena faktor internal seperti biaya persalinan hingga transportasi semua alhamdulillah masih terjangkau. Kami mengantisipasi dan menakar tanggapan orang-orang terdekat hingga tetangga lingkungan meneganai keputusan kami lahiran di tempat yang “jauh”. Apakah kami siap secara mental? saya pribadi dari awal menekankan untuk menghiraukan hal apapun yang ada di luar kendali kami. Namun kita semua tahu hidup bermasyarakat daerah pedesaan tak sesedarhana teori. Hal yang sedianya jadi keputusan privasi keluarga dapat dengan mudah menjadi konsumsi umum. Semua merasa berhak menghakimi, memutuskan mana yang terbaik tanpa mau tahu kondisi serta latar belakang pertimbangan tersebut diputuskan. Saya sadar beban psikologis paling berat tentu ditanggung istri. Saya hanya bisa menguatkan dan meyakinkan bahwa proses persalinan akan terkenang sepanjang hayat, pilihan ada pada kita. Jangan sampai kita menyesal tidak memilih sesuatu yang menurut kita terbaik hanya karena takut terhadap persepsi orang lain.
Alhamdulillah akhirnya kami berani mengambil keputusan sesuai dengan pertimbangan terbaik kami. Setelah menjalani semuanya kami menyadari bahwa memutuskan bersalin di klinik Mazaya adalah salah satu keputusan besar terbaik dalam proses berumah tangga kami. Wallahu a’lam.










