Rabu, 03 Juni 2026

Mengapa Mazaya?

“Kejauhan gak ya?”

“Pakai transportasi apa ya?”

“Bagaimana kami menjawab pertanyaan orang-orang tentang tempat lahiran kami yang jauh?”

“Apakah mental kami siap menghadapi orang-orang pasca lahiran?”

Pertanyaan di atas adalah bagian kecil yang menghantui pikiran kami sebelum memutuskan bersalin di klinik Mazaya. Sejujurnya pertanyaan di atas tak tuntas kami jawab dalam sekali sesi bincang. Butuh waktu, observasi, konsultasi ke banyak pihak juga pertimbangan  internal maupun eksternal. Faktor terakhir yang membuat kami maju-mundur. 

Tulisan ini akan menjelaskan beberapa alasan mengapa akhirnya kami memilih klinik Mazaya. Sebagai konteks klinik Mazaya terletak di Pulung Ponorogo, daerah pinggiran dataran tinggi, butuh waktu sekitar 40 menit dari rumah kami. Sementara banyak opsi yang relatif lebih dekat dari rumah kami, bahkan 100 meter dari rumah kami terdapat klinik yang cukup besar yang pemiliknya masih kerabat.

1. Progam hamil

Kami mengusahakan progam hamil setelah setahun lebih usia pernikahan istri belum dikaruniai hamil, berbagai usaha kami lakukan. Terakhir kami mendapat rekomendasi dari sanak famili untuk mengihtiarkan ke bidan UMI Mazaya. Qadarullah melalui wasilah Bu Umi biidznillah istri hamil. Berawal dari konsultasi itulah kami mulai berhitung untuk lahiran di Mazaya, mengingat dari awal progam hamil sampai proses mendekati lahiran kami konsultasi ke bu Umi. Awalnya kami merasa ada beban moril untuk lahiran di sini, mengingat kami berhasil promil berkat wasilah bantuan beliau, tetapi belakangan kami merasa bahwa kami memang cocok dengan klinik ini dalam hal apapun. 

2. Bu Umi - Kak bidan

Dalam memilih Dokter/Bidan bersalin, komunikasi menjadi kunci utama mengingat ibu hamil hormonnya tidak stabil. Kami merasa cocok dengan sosok Bu Umi, pendekatan medis-agamis dibalut komunikasi santun dengan senyum khasnya berhasil memikat hati kami. Beliau selalu melibatkan Allah Swt dalam setiap fase progamnya, serta senantiasa menekankan keterlibatan peran suami di setiap fase hamil istri. Belakangan kami tahu gaya komunikasi seperti itu juga dilakukan kakak bidan-bidan Mazaya, mungkin semacam jadi SOP.  Kami merasa dari awal Bu Umi beserta dan kakak bidan mencoba membangun bounding serta relasi yang menempatkan kami lebih dari sekedar provider dan customer melainkan keluarga yang siap berproses dengan ilmu, kasih sayang, serta tawakkal maksimal untuk buah hati kami. Hal yang sulit kami temui di klinik/ rumah sakit lain.

3. Bersalin alami/normal/pervaginam.

Dari awal hamil  istri menginginkan lahiran normal, tanpa mengurangi derajat ibu yang dengan sengaja atau dituntut keadaan memilih SC. Istri ingin menjalani proses hamil-melahirkan secara alamiah. Fitrahnya ibu yang merasakan sakitnya tubuh selama hanil hingga mengejan saat lahiran. Kebetulan Mazaya menawarkan fasilitas itu, lahiran alami dengan teknik-teknik tertentu seperti akupuntur - moksa untuk merangsang bukaan hingga nafas perut untuk meminimalisir sakit saat bersalin. Dan yang paling penting Mazaya akan mengupayakan secara maksimal lahiran alami selama tidak ada penyakit yang mengharuskan SC. Banyak sekali riwayat persalinan lilitan,ketuban pecah,pinggul sempit hingga proges bukaan lambat dapat ditangani dengan baik. Sementara sependek pengamatan kami biasanya tatkala terdapat problem seperti di atas klinik/ RS terkait kebanyakan akan merujuk untuk operasi

4. Mengabaikan faktor eksternal.

Topik percakapan kami seputar tempat persalinan yang paling kompleks ternyata perihal faktor eksternal karena faktor internal seperti biaya persalinan hingga transportasi semua alhamdulillah masih terjangkau. Kami mengantisipasi dan menakar tanggapan orang-orang terdekat hingga tetangga lingkungan meneganai keputusan kami lahiran di tempat yang “jauh”. Apakah kami siap secara mental? saya pribadi dari awal menekankan untuk menghiraukan hal apapun yang ada di luar kendali kami. Namun kita semua tahu hidup bermasyarakat daerah pedesaan tak sesedarhana teori. Hal yang sedianya jadi keputusan privasi keluarga dapat dengan mudah menjadi konsumsi umum. Semua merasa berhak menghakimi, memutuskan mana yang terbaik tanpa mau tahu kondisi serta latar belakang pertimbangan tersebut diputuskan. Saya sadar beban psikologis paling berat tentu ditanggung istri. Saya hanya bisa menguatkan dan meyakinkan bahwa proses persalinan akan terkenang sepanjang hayat, pilihan ada pada kita. Jangan sampai kita menyesal tidak memilih sesuatu yang menurut kita terbaik hanya karena takut terhadap persepsi orang lain.


Alhamdulillah akhirnya kami berani mengambil keputusan sesuai dengan pertimbangan terbaik kami. Setelah menjalani semuanya kami menyadari bahwa memutuskan bersalin di klinik Mazaya adalah salah satu keputusan besar terbaik dalam proses berumah tangga kami. Wallahu a’lam.

Share:

Jumat, 28 November 2025

Kado dari Tuhan.

Mas badanku gak enak, aku tidur di Sampung ya”. Pesan singkat istriku lewat gawai. Aku berpikir sakit itu karena faktor kelelahan akibat beberapa hari sebelumnya kami sekeluarga berlibur camp di pantai Srau Pacitan.  Keesokan harinya kutengok keadaannya belum membaik, akhirnya lusa kami putuskan untuk periksa ke puskesmas, awalnya diagnosis bidan darah rendah akibat sering makan timun serta tidur di lantai, dua hal yang memang gemar istriku lakukan.

Waktu itu aku harus pulang-pergi Sampung-Polorejo dikarenakan kegiatan perkemahan Pramuka di sekolah. Karena tak kunjung membaik akhirnya istri minta sekali lagi dirujuk ke Puskesmas, di sana istri bertemu bu bidan yang sudah akrab musabab sering sosialisasi kesehatan di tempat kerja istri. Setelah mendengar keluhan istri bu bidan menganjurkan untuk tes pack.

 

Trauma Test Pack

Setiba di rumah, istri cerita perihal anjuran bu bidan, saya pun ikut mendukung anjuran tersebut mengingat kebetulan istri juga sudah terhitung terlambat haid. Namun dia menolak, hal ini wajar belaka mengingat selama setahun penantian hamil beberapa kali istri mengalami gejala menyerupai ibu hamil mulai dari mual, tidak enak badan hingga telat haid beberapa hari, sampai- ia tes pack berkali-kali dengan hasil bayangan samar garis dua yang dianggapnya positif hamil hingga akhirnya waktu yang menyanggah. Perasaan exited di awal seketika patah hancur berkeping-keping. Ia selalu minta maaf, merasa bersalah karena tak kunjung dapat memberikan keturunan. Kubelai halus rambutnya sambil berucap lirih untuk kesekian kalinya “kita ikhitiarkan bersama lagi ya”. Pengalaman itulah yang membuatnya trauma melakukan test pack. Aku pun tak memaksanya, toh kalaupun beneran hamil pasti akan ketahuan.

 

Kepastian dari Dokter.

Tak ada hingar-bingar, tak ada perayaan berlebihan, pun tak ada eskpresi membuncah dari wajah kami. Hanya untaian ucapan syukur yang keluar dari mulut kami. Kami memang sejak awal menikah telah mengupayakan lahir batin kehamilan ini. Terutama istri rutin membeli vitamin,olahraga, memperbaiki pola makan kami hingga konsultasi bidan baik ofline maupun online. Tak luput ibadah malam serta rapalan doa demi doa tak putus kami lantunkan khusus untuk hajat kehamilan ini. Tuhan akhirnya mengabulkan doa kami. Kepastian kehamilan ini kami dapat setelah istri akhirnya mau melakukan test pack dengan hasil garis dua dan untuk memastiaknnya kami periksa ke dokter kandungan. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.

 

Masa menanti

Anak adalah karunia Tuhan, ia bagian dari misteri Ilahi sama halnya seperti hidup – mati dan jodoh, kita hanya dapat berikhtiar selebihnya Tuhanlah yang menentukan. Dalam masa penantian kehamilan, kami (terutama istri) belajar banyak hal mengenai berbagai jenis vitamin penunjang hamil dari medis, herbal hingga pola makan dan olahraga ideal untuk progam hamil. Kami juga belajar bagaimana merespon berbagai pertanyaan mengenai kapan istri hamil. Tak semuanya kami lalui dengan mulus, tak terhitung berapa kali kami terpuruk, menangis-meratapi kata demi kata yang menyakitkan itu. Tentu saya menyadari dalam hal ini istri yang paling rentan, karena istri yang hamil sudah barang tentu beban ada padanya. Saya sebagai suami hanya bisa menguatkan, memberikan sepatah dua patah motivasi sekaligus menekankan padanya bahwa derajat wanita tak akan berkurang sejengkal pun andai ia tak ditakdirkan punya anak pun tak elok rasanya jika kita kufur nikmat hanya karena tak ditakdirkan punya momongan dibanding nikmat tak terhitung yang telah diberikan Tuhan pada kita.
Kami berkomitmen menjadikan momen penantian ini sebagai ajang mempersiapkan diri menjadi orang tua (meskipun pada akhirnya kami tak benar – benar siap) sekaligus belajar untuk menerima takdir terbaik yang diberikan Tuhan.

 

Nak, sejak awal Bapak yakin kau akan lahir di dunia ini entah kapan Tuhan mentakdirkannya, Mamamulah yang sejak awal mencemaskanmu dan itu wajar belaka. Maka dalam masa penantianmu, hingga hari ini usiamu 13 minggu Mamamu yang paling merasakan penderitaan menanti serta mengandungmu. Tak nafsu makan, mual, sakit di sekujur tubuh dirasakannya tiap hari. Nanti di usia puluhan minggu kamu akan diajak mamamu mengerjakan tugas akhir kuliah hingga berbagai tugas administrasi madrasahnya, mohon kerja samanya ya. Bapakmu hanya sesekali memijat ibumu dan membelikan makanan yang ingin ia makan.  

Jika kau sudah lahir kelak kau akan mendengar kata IBU,IBU,IBU percayalah bahwa itu benar belaka.

 

Kami tunggu kelahiranmu di dunia dengan wajah bahagia selamat sentosa.

 

 

Share:

Sabtu, 22 Februari 2025

PPG-Bingung-Dihajar sepi.

 

Tulisan ini kuketik dengan perasaan tak karuan. Tak ada teman cerita, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara waktu seperti mengejarku. Ketika mendapat kabar bahwa ada panggilan PPG aku lega, dengan susah payah beban administrasi kulengkapi sampai pada tahap penempatan LPTK (kampus), aku ditempatkan di IAIN Metro Lampung. Tanggal 24 Feb mulai lapor diri kepada kampus yang bersangkutan.

Sampai tahap ini masih bisa kuatasi sendiri, namun aku baru tahu kalau ada yang namanya RPL, yang kutahui semacam mengumpulkan bahan ajar selama beberapa tahun terakhir. Banyak sekali  istilah – istilah yang baru kujumpai, aku tak mengerti sama sekali. Awalnya aku mengira berkas-berkas menyebalkan ini dikumpulkan setelah kuliah, ternyata sebelum kuliah.

Terakhir berkas dikumpulkan konon tanggal 28 februari (semoga mundur), 27 semoga kamu sudah pulang sayang.

Doaku semoga aku tak stres.

Di situsasi seperti ini muncul pengandaian-pengandaian yang menyebalkan. Andai istriku ada disampingku, aku bisa berbagi keluh kesah dia sedikit banyak pasti bisa membantuku atau minimal meredam emosiku, memberikan semangat di tengah rasa frustasiku.

Besok kegiatan ziarah bersama jamaah toriqah se-Ponorogo 17 makam, kemungkinan sampai malam Tiba-tiba aku kepikiran tidak ikut. Waktu libur bisa kugunakan buat nyicil berkas, tapi tidak tahu bagaimana cara mengutarakan keinginanku. Pasti dibilang berlebihan dsb.

aku berdoa semoga ada jalan keluar, diberi kemudahan dari arah manapun. Aku pasrah padamu ya Rabb.

 

 

Share:

Minggu, 09 Februari 2025

Rindu

 


Saat kau bilang bu nyai menangisiku karena iba kita berpisah sementara disaat pernikahan baru seumur jagung, aku tak begitu menghiraukannya. Bagiku itu tak lebih dari ekspersi empati ibu kepada anaknya dan karena bu nyai perempuan, menangis merupakan ekspresi yang wajar belaka.

            Namun seiring berjalannya waktu tangisan beliau menemukan jalan kesahihannya. Sehari bagai setahun, seminggu bagai sewindu dan sebulan bagai seabad. Kenyataan bahwa aku sudah menikah dan punya istri membuat perasaannya tak lagi sama seperti aku sebelum menikah. Mungkin sama-sama sepi tapi kali ini ekspektasi menanti sosok kekasih itu benar-benar nyata terang benderang, bukan sekedar angan yang tak pasti siapa orangnya.

            Rapalan doa setiap salat 5 waktu tak cukup jadi obat, karena harapan baik memang tak pernah  sama dengan rindu. Satu-satunya yang menguatkanku adalah kenyataan bahwa ini hanya sementara dan cepat atau lambat kita pasti bertemu kembali.

            Perkenalan kita yang singkat sebagai pribadi membuat adaptasi setelah menikah menjadi berlipat. Kita beradaptasi saling mengenal sebagai pribadi sekaligus adaptasi menempatkan diri kita sebagai suami dan istri. Saling mengenal pola perilaku disaat salah satu dari kita marah apa yang harus dilakukan, disaat sedih apa formula yang tepat untuk  saling  jadi obat.

            Kita yang awalnya hidup dengan kesibukan masing-masing, akhirnya saling tenggang rasa untuk mendukung satu sama lain singkatnya menyesuaikan ini itu. Disaat adaptasi itu baru seumur jagung karenanya belum benar-benar settel, kita harus berpisah sementara. Kau menunaikan tanggungan mulia riyadhoh, dari awal aku sudah berjanji setidaknya pada diriku sendiri untuk selalu mendukung langkah positif yang ingin kau gapai, bukan hanya untuk riydhoh ini saja melainkan untuk hal-hal positif lainnya.

Fase ini kembali mengingatkanku betapa hidup hendaknya harus disyukuri sejengkal-demi sejengkal, betapa pribadi yang penuh daif ini beruntung memiliki perempuan sepertimu. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal

        Tulisan ini dibuat agar suatu saat kita baca kembali dan merasakan nostalgia bahwa kita pernah mengalami fase “berpisah sementara” untuk kembali beradaptasi membangun rumah tangga yang menyenangkan, penuh rasa syukur dan diridhoi Allah. Aamiin.      

  

 

 

 

 

 

 

 

 

Share:

Selasa, 02 Juli 2024

Perjuangan Menggapai Restu Orang Tua

Beberapa hari pasca kami bertemu, kami berinisiatif untuk bercerita kepada orang tua. Aku bilang kepada ibu bahwa perkenalan ini meskipun singkat kami berupaya untuk menjaga komitmen, pun aku minta ibu untuk terlebih dahulu tidak bercerita pada sanak famili, mengingat kami baru kenal dan ingin lebih mengenal satu sama lain.

Alhamdulillah ibu merespon dengan positif  “selagi hatimu mantap dengan pilihanmu, ibu merestui” jawaban yang membuat hati ini lega sekaligus percaya diri, perasaan terakhir ini kelak di tengah cerita akan membawa polemik.

Farida (nama calon istri) memberi kabar bahwa orang tuanya merestui hubungan kami, dan tidak ada problem terkait hitungan jawa, dia bertanya bagaimana soal hitungan jawa dikeluargaku, apakah aman?.

Keluargaku belum sampai pembahasan itu, tanpa bermaksud menggampangkan persoalan ini, jawaban ibu dari percakapan di atas membuatku merasa aman, termasuk dari kemungkinan terhalang dari hitungan jawa meskipun ibu dan keluarga besar cukup teguh memegang adat jawa satu ini.

 

“Sigar Segoro Geteh”.

Aku lahir dari rahim pendidikan pesantren, sedikit banyak diperkenalkan Islam dari literatur kitab turast (kitab anggitan ulama klasik), dewasa melanjutkan belajar di kampus Islam Semarang. Di lingkungan kampus diperkenalkan dengan buku-buku wacana Islam liberal-kiri, sementara di keluargaku Bapak adalah mursyid (pemimpin) tariqah sekaligus menguasai pengetahuan adat jawa.

Pasca Bapak meninggal keluarga  kami “diditipkan” ke pak Mislan dan mas Syakur. Nama pertama kawan seperjuangan bapak merintis tariqah, beliau juga Mursyid. Nama kedua masih famili sekaligus dalam tariqah berkedudukan badal mursyid (pengganti mursyid ketika berhalangan). Secara umum setiap keputusan besar dalam keluarga kami harus melalui pertimbangan beliau berdua, terutama pak Mislan.

Suatu hari ibu membantu masak untuk suatu kegiatan di rumah mas Syakur, disitulah ibu bercerita tentang hubungan kami. “kui engko ketemune sigar segoro getih, ora oleh lak ning adat jawa, takok,o Mislan jawabane podo”.Ujar mas Syakur.

Ketika itu aku mendampingi anak-anak sekolah jalan santai dalam rangka hari besar Islam. Rutenya kebetulan melewati rumah mas Syakur dan tepat di depan rumah ketika kami berpapasan ibu bilang “wis bocae lalekno, ketemu sigar segoro getih, mumpung durung adoh (hubungan kami belum serius)”.

Seketika wajahku memerah, badanku membeku, perasaanku kalut, hatiku gusar, ibu memintaku untuk duduk berunding bersama mas Syakur, namun aku enggan, fikiranku buntu, emosiku tak terkontrol, aku pulang dan mengurung diri di kamar.

 

Berjibun pertanyaan muncul di benakku; mengapa ibu mengatakan itu dengan mudah? menyuruhku melupakan perempuan kuyakini dengannya aku berjodoh!, mengapa ibu mengatakan itu di tempat umum?, bukankah beberapa waktu lalu ibu bilang akan merestui hubungan kami? apakah restunya tercerabut semata karena hitungan jawa?, sepenting itukah hitungan jawa sampai beliau tak mempertimbangkan aspek lain?, apa itu segoro getih?.

Setelah ibu di rumah, kami terlibat percakapan sengit, beliau berbicara lirih, menjelaskan apa itu segoro getih: sederhananya ketika akad/resepsi mempelai pria tidak boleh melewati rumah kakak. Perlu diketahui kakakku menikah dengan perempuan satu dusun dengan Farida jadi kemungkinan akan melewati rumah kakak, walaupun ada beberapa opsi jalan yang memungkinkan untuk tidak melewati rumah kakak.

Aku mencoba menawar; apakah hal-hal seperti itu tidak bisa dicarikan penangkal. Aku memang tak tahu menahu perihal hitungan jawa, tapi aku beberapa kali melihat dan mendengar percakapan Bapak dengan tamunya membicarakan problem serupa. Bapak bisa mencarikan penangkal.

Ibu tetap bergeming, beliau mencontohkan beberapa tetangga tak direstui menikah dengan alasan serupa, akupun mencohtohkan beberapa orang tetap menikah dengan problem serupa langgeng sampai sekarang.

Mungkin ibu setengah heran mengapa aku sekeras kepala itu untuk perempuan baru pertama kali kutemui, jawabannya sederhana karena tidak ada alasan masuk akal untuk aku melepasnya. Bagiku hitungan jawa bukan faktor determinan seseorang melepaskan perempuan pilihannya, apalagi niat kami mulia, ibadah selamanya.

Sambil menyeka air matanya ibu mengatakan ini demi kebaikan kami. Aku pun kembali menegaskan bahwa aku hanya menginginkan ridho ibu. Akhirnya ibu mengajakku pergi ke rumah pak Mislan, beliau akan jadi solusi terakhir, apapun keputusan beliau kami sepakat akan sama-sama menerimanya.

Pukul 11.00 di tengah guyuran hujan kami diantar keponakan menggunakan mobil ke rumah pak Mislan. Di perjalanan fikiranku melayang pada ucapan mas Syakur “sekalipun dikonsultasikan ke pak Mislan jawabannya akan sama (sigar segoro getih)”.

Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran itu, sepanjang perjalananan tak henti kulantunkan fatihah untuk Bapak dan pak Mislan, juga kulantunkan salawat jibril.

Sampai sana sekitar pukul 11.30 Wib, pintu tak langsung dibuka. Disela – sela menunggu fatihah tak putus kulantunkan sembari memohon kepada Allah Swt keputusan terbaik untuk kami.

Setelah menunggu sekitar satu jam kami dipersilahkan masuk, aku mengambil air wudhu, ibu dan keponakan masuk terlebih dahulu. Setelah bersalaman dengan beliau, tiba-tiba beliau berujar “sajakke tresnone wis tenanan” . saya hanya menimpali “nggeh”.

Setelah ibu menyampaikan maksud kedatangan kami, Pak Mislan memintaku menulis nama kami berdua, tanggal lahir serta pasaran jawanya. Beliau lalu masuk ke kamar. Sekitar 5 menit berlalu beliau keluar kamar dan berucap dengan lugas “iki apik Yu ( beliau memanggil ibuk dengan panggilanYu) iso dilanjutne, ning syarate 2, pertama kudu oleh izine mas’e, kedua sifate ora baku, lak iso sing istri digowo ngetan (rumahku)”.

Aku dan ibu tak kuasa menahan air mata, kami menitihkankan air mata haru. Ibu lega apalagi aku. Alhamdulillah pak Mislan sama sekali tak menyinggung sigar segoro getih.

Ketika pak Mislan merestui ibu otomatis ikut merestui karena pada dasarnya tidak ada masalah pada Farida, masalah semata pada hitungan jawa, ketika hal itu ternyata tidak memberatkan hubungan kami, maka secara otomatis restu kudapatkan.

Malam hari setelah salat isak aku bergegas ke rumah kakak di Sampung, meminta restu dengan gagah dan percaya diri, dan seperti harapanku kakak merestui hubungan kami. Alhamdulillah akhirnya kami mendapatkan restu orang tua.

Tentang Adat (hitungan) Jawa.

Ketika hubungan kami terancam batal karena perkara hitungan adat jawa, dalam hati aku berjanji bahwa suatu hari saat punya anak, aku tak akan melarang anakku menikah dengan pilihannya “hanya” karena hitungan jawa. Selama mereka yakin dengan pilihannya, bertanggung jawab atas keputusannya, restuku akan kuberikan.

Dalam salah satu hadist nabi memilih istri berdasarkan 4 hal; harta, nasab, keantikan dan agama. Dari keempat kriteria tersebut agamalah prioritas utama dan Farida perihal aspek agama bagiku lebih dari cukup.

Perihal adat jawa tak menjadi pertimbangan serius untukku ketika memilih Farida meskipun Farida dan keluargaku menganggap itu penting. Aku pernah mendengar sebagian orang-orang bilang meyakini sepenuhnya adat jawa sebagai penentu keputusan sama dengan “musyrik kecil” betapapun penganut adat jawa membantahnya karena secara bersaman mereka sekaligus muslim-taat.

Bagiku predikat “musrik kecil” terlalu berlebihan, karena setidaknya orang terdekatku penganut adat jawa selain muslim-taat dalam derajat tertentu semata untuk melestarikan khazanah kearifan lokal sekaligus mengohrmati peninggalan ajaran nenek moyang.

Pramodedya Ananta Toer dalam “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” mengecam keras masyarakat penganut adat jawa dengan menyebutnya sebagai boneka dari daging dan tulang.

“barang siapa masih percaya (hitungan jawa) dia hanyalah boneka dari daging dan tulang. Seluruh jiwanya dikendalikan oleh perhitungan-perhitungan yang tak pernah dapat dibuktikan kebenarannya. Dia bukanlah manusia bebas, dan tak ada orang lain dapat membebaskannya dari belenggu klenik daripada dirinya sendiri. Dengan perhitungan semacam itu orang tak berani mengambil inisiati untuk melakukan sesuatu bila perhitungan tidak membenarkan. Sebaliknya orang menjadi berlebih – lebihan bila perhitungan menganjurkan. Maka pribadinya goyah, tidak mantap, kerdil untuk selama-lamanya karena memang tidak terlatih berpikir bebas tanpa batas”.

Tanpa merendahkan adat jawa, bagiku adat jawa seyogyanya cukup dipelajari sebagai khazanah kearifan lokal dan dalam derajat tertentu dapat dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan tapi tidak untuk diyakini sepenuhnya sebagai kompas takdir yang akan terjadi dimasa depan apalagi dengan mengabaikan aspek – aspek material sebagai pertimbangan. Wallahu a’lam.


*Tulisan ini merupakan sambungan cerita dari https://fathanzr.blogspot.com/2024/05/dipertemukan-calon-isteri.html?m=1

Share:

Sabtu, 18 Mei 2024

Dipertemukan Calon Istri.

 




Hidup berjalan dari satu fase ke fase selanjutnya. Bagiku dalam menentukan fase kehidupan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya; umur,finansial, dan mental. Lelaki kelahiran 1995 seperti diriku umumnya mulai berfikir untuk menikah,termasuk diriku. Sambil menjalani aktifitas sehari-hari diriku mempertimbangkan hal-hal di atas.  

Namun uniknya semakin ke sini pertimbangan di atas jauh dari kata ideal. Sementara dalam benakku kerapkali bertanya apakah semuanya harus ideal menurut kita?, apakah ideal yang kita impikan adalah ideal yang “hakiki”?, bagaimana jika ideal itu pada kenyataannya tidak pernah terwujud? Apakah diriku tak akan menikah? 

Akhirnya muara dari pertanyaan-pertanyaan duniawi di atas mengarah pada satu jawaban yang cukup menentramkan hati. Niatkan menikah untuk ibadah selamanya, maka niscaya Tuhan akan menatanya.

Akhirnnya mantap Bismillah, menikah!.

Problem berikutnya siapa calonnya?

Mencari Jodoh Melalui Wasilah Kawan.

Masa remaja pendidikanku kulalui di salah satu pesantren di Ponorogo – kuliah merantau di ibukota Jawa Tengah. Di pesantren tentu belum ada fikiran menikah, adapun kenalan perempuan di Semarang rata-rata rumahnya di wilayah Jawa Tengah sementara jauh hari ibu pernah berpesan untuk mencari istri yang domisilinya relatif dekat dengan rumahku. 

Alasannya, pertama ibu ingin dekat dengan besan, kedua ibu tak ingin anaknya  ketika pulang kampung tak keberatan waktu, tenaga dan biaya. Pulang kuliah tidak ada circle yang memungkinkan diriku kenal dengan perempuan, akhirnya aku minta tolong teman-temanku untuk mengenalkan teman perempuannya. 

Sambut bergayung beberapa kawan, bahkan sanak keluarga “menawarkan” kenalan. Semua proses kujalani dalam rangka ikhtiar mencari jodoh, hingga akhirnya dipertemukan dengan perempuan yang kelak jadi calon istriku, “dia ngabdi di pondok al-kholili” begitulah awal tawaran perkenalan itu. seorang kawan yang kebetulan tetanggaku mengenalkan temannya, selebihnya saya telisik sendiri.

Awalnya yang bersangkutan tidak berkenan untuk kenalan dengan alasan masih belum selesai belajar di pondok, dan waktu itu pikirku ya sudah jika yang bersangkutan tidak berkenan. Toh, tak elok jika memaksakan kehendak.

Beberapa minggu setelahnya saya iseng melihat status instagramnya dan mengirim pesan langsung. Alhamdulillah dari situ kita awal mula berbalas pesan. Kami semakin intens berbalas pesan. Dia melihat instagramku difollow mbak Ratna, kebetulan dia juga kenal yang bersangkutan. Mbak Ratna ini dulu kakak kelas dua tahun di atasku, kami kenal karena sama-sama pernah mengemban amanah ketua OSIS.

Dari mbak Ratna kutahu banyak hal tentangnya dan lewat beliau pula saya utarakan niat  untuk kenal serius. Jika cocok lanjut membicarakan prospek berjodoh, kalau tidak ya cukup menjadi teman. Alhamdulillah berkat rekomendasi mbak Ratna, sang calon berkenan berkenalan lebih jauh dalam rangka ikhtiar berjodoh. Awalnya kami berbincang lewat gawai- whatsapp setelah dirasa punya kecocokan kami memtutuskan untuk bertemu.

Sebelum memutuskan bertemu, kami menjalin kesepakatan bahwa kita akan membicarakan apapun yang perlu dibicarakan dalam rangka mengijmaniaskan what if  kita menikah? Cocokkah? Mulai dari latar belakang pendidikan kami, keluarga, pekerjaan, kondisi keuangan, apakah masing-masing punya hutang dalam jumlah besar?, dsb. Termasuk dalam aspek fisik-sifat apakah kami menerima masing-masing kekurangan?. jika kami tidak cocok, maka salah kami harus segera mengutarakan, pun sebaliknya jika cocok segera konfirmasi.

Insecure

Kami bertemu di salah satu kafe dekat pusat kota, dia datang terlebih dahulu karena ada tanggungan nembel kitab, sementara diriku sibuk menyiapkan kegiatan pengajian di masjid Dusun. Terik matahari menemani perjalananku bertemu dengannya. Untungnya kami bertemu di kafe dengan fasilitas AC, lumayan membantu sedikit menyamarkan muka kusamku. 

Bergamis hitam, berkaca-mata, khusuk dengan kitabnya. Kulitnya putih bersih, wajahnya ayu dengan hiasan make-up tipis. ”Maaf ya telat ucapku mengawali pembicarakan. Kami ngobrol sekitar satu setengah jam, dari isi obrolan kami, dia cukup dewasa, dan yang paling melegakan kami nyambung satu sama lain ketika ngobrol. Cantik, pintar, mandiri. Sementara diriku? insecure.

Malam hari aku ikhtiar salat istikharah, beberapa kali, namun petunjuk tak kunjung datang. Hatiku mencoba untuk tenang, disuatu kesempatan diriku teringat satu cuplikan pesan almaghfurlah K.H Idris Marzuqi Lirboyo. Jika merasa cocok satu sama lain, langsung lamar tak perlu istikharah. Saya mantap, tapi dia apakah merasakan hal yang sama denganku?.

Beberapa hari berselang aku menanyakan tentang kelanjutan hubungan kami. Dia mengaku tidak hal yang membuatnya tidak melanjutkan hubungan ini. Ya Tuhan alhamdulillah, batinku tak henti merapal syukur. Akhirnya aku menemukan orang yang aku cintai dan mencintaiku, meskipun restu berlapis harus kami tempuh, setidaknya kami siap berkomitmen menuju halal. Bersambung.

 

 

 

 

 

 

 

  

Share:

Selasa, 16 Maret 2021

Cumbri; Melawan Hasrat Berswafoto.

 




.

Ketika kemarin kami dihadapkan pilihan antara puncak cumbri dan mongkrang kami memang memilih cumbri, namun itu tak serta merta memalingkan kami sepenuhnya dari cumbri. Dalam rangka mengisi kekosongan malam minggu. Kami memutuskan untuk mendaki cumbri. Sebuah bukit yang terletak diantara perbatasan wilayah Ponorogo-Wonogiri dengan ketinggian kurang dari 1000 Mdpl.

Awalnya kami berencana ber-enam. Namun karena sebagian berhalangan, akhirnya tiga orang tersisa, aku, Huda dan Rizki. Berbekal pengalaman mendaki dua bukit; Pringgitan dan Mongkrang kali ini kami lebih rileks dalam persiapan. “ kita Tek-tokan (baca;naik puncak langsung turun tanpa bermalam, istilah populer para pendaki) aja ya” aku menawarkan opsi dan yang lain setuju tanpa mendebat.

Awalnya kami merencanakan mulai naik sekitar pukul 02.00 wib dinihari untuk menghindari menunggu sunrise terlalu lama. Namun kami menyadari potensi malas berangkat pada jam-jam tersebut. Pada praktiknya saya dan Rizki berangkat jam 20.00 WIB menuju kediaman Huda, rumah paling dekat menuju Pager Ukir tempat pos pendakian.

Sebenarnya ada dua jalur pendakian, pertama Pager Ukir Sampung masuk wilayah Ponorogo Jawa Timur, Kedua Purwantoro masuk wilayah Wonogiri Jawa Tengah. Yang pertama memiliki jarak tempuh lebih pendek daripada kedua.

Setelah sampai di kediaman Huda kami packing mempersiapkan konsumsi dan peralatan  secukupnya. Sambil menuggu waktu lebih larut kami berbincang santai.

Takut makin lama makin malas gerak, sekitar pukul 23.00 kami memutuskan jalan, di perjalanan menuju Pager Ukir kami menjumpai jalan buntu dan rusak yang hampir mustahil dilewati, untungnya Rizki yang  sudah lebih dari sekali ke Cumbri punya beberapa opsi jalan. Yang terakhir jalannya beraspal mulus. Dalam benakku bertanya “ kenapa tidak dari tadi lewat sini Riz? Hmmm”.

Kami mulai naik sekitar pukul 23.30 Wib, naik dengan pelan sambil sesekali istirahat. Kami mencoba sesantai mungkin agar sampai puncak sudah dinihari.  Pendakian dipimpin Rizki sang leader, dia yang paling paham soal seluk beluk pendakian. Di tengah aku, orang yang paling rentan fisiknya dan terakhir Huda sang sweeper, selain yang paling besar diantara kami, dia juga paling sabar, terbukti ketika pendakian di Mongkrang silam.

Dalam perajalanan tidak ada kendala berarti, aku yang biasanya mengalami encok di punggung kali ini tak merasakannya, hanya sesekali capek, tapi tak seberapa. Huda yang mulanya mengeluh sakit perut seiring berjalannya waktu membaik. 

Sekitar satu jam kami mendaki tibalah kami di punggungan cumbri, relatif  cepat, aku pribadi tak menyangka secepat itu. Di punggungan kami beristrirahat lumayan lama. Hingga sekitar pukul 02.00 wib, kami lanjutkan naik ke puncak cumbri, puncaknya menyerupai bebatuan besar bersandingan, hampir tak ditemukan dataran yang cukup untuk digunakan mendirikan tenda, para pendaki mendirikan tenda di punggungan itupun tak benar-benar rata. Kami sendiri beristirahat dan masak – masak ditempat yang kami anggap paling ideal.

Selesai menikmati hidangan kopi, sosis dan mi instan, rasa kantuk menyerangku. Aku tertidur tapi tak pulas, begitupun Huda ia tidur dengan posisi duduk sedangkan Rizki terjaga dengan ditemani gawainya.

Jelas kami berdua tak pulas, selain tidak ada bidang datar untuk tidur, kami tak bawa tenda sedangkan angin berhembus sangat kencang menembus pori-pori kulit kami. Sesekali aku bangun dan reflek minta turun pada Rizki, ia menyanggupi dengan syarat permainan mobile legend-nya kelar.

Aku menunggunya sampai tak terasa kembali tertidur lagi, bangun kedua kalinya dengan permintaan  yang sama, kali ini Huda menimpali dengan setengah sadar “ di sini aja dulu” pintanya dengan masih di posisi tidur yang sama; yakni duduk.

Rasa-rasanya aku tak kuat menahan dingin sampai waktu sunrise muncul, sedangkan disitulah momen paling indah untuk berswafoto. Apalagi yang diharapkan dari mendaki selain itu?. aku sempat khawatir mereka kecewa.

Namun tak lama berselang Huda juga mengajak turun. “ayo turung ngapain lama-lama”. Akhirnya kami berkemas dan sekali dua kali mengambil gambar, walaupun ala kadarnya karena kondisi masih gelap.

Saat itu nampaknya kita satu persepsi bahwa hal terindah dari naik gunung adalah proses perjalanan itu sendiri. Urusan foto bukanlah prioritas utama. Jika memungkinkan kita abadikan, jika tidak, biarkan Tuhan yang mengabadikan. Pagi itu kami berhasil mengalahkan hasrat berswafoto.

Share:

Kamis, 18 Februari 2021

Mongkrang 2194 Mdpl: Pengalaman Pertama Kali Muncak.

Aku masih ingat betul tanggal 2 Januari malam, salah satu dari kami memberi kode tipis dengan intonasi setengah bertanya “bar iki gas lawu wani po ra ki?” beberapa detik tak ada suara,hanya angin kencang bukit Pringgitan yang terde
ngar. Nampaknya 5 pemuda pecinta alam amatiran ini tahu, modal semangat saja tidak cukup untuk menyusuri gunung Lawu, apalagi salah satu dari 5 pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah saya baru saja bertungkus lumus jatuh bangun untuk mencapai puncak pringgitan yang tingginya hanya sekitar 600 Mdpl.

sek golek gunung sing rodok cendek gawe pemanasan lur”jawabku setengah berasalan.

“cumbri opo mongkrang?, kui pilihane” Rizki memberi opsi. Tak butuh debat panjang untuk memilih Mongkrang. Selain satupun dari kami belum pernah kesana, mongkrang konon menjanjikan pemandangan lawu yang menjadi tujuan akhir kami.

Tanggal 6 Februari kami sepakat untuk memberi notifikasi pada gawai masing-masing sebagai tanda hari itu adalah hari dimana kami memulai perjalanan. Satu anggota bernama Is menggenapi satu tim kami. Aku,Is, Huda, Rizki, Angga, Khoiron.

Seminggu menjelang pemberangkatan hampir setiap obrolan WA grup selalu mengingatkan tentang persiapan muncak. Kalau dalam istilah jawa Wis koyok iyok yok o!.

Hari yang ditunggu-tunggu datang, kami memulai perjalanan, sampai camp registrasi kami pukul 20.00 Wib. Sebelum sampai camp kami menyempatkan mengisi perut diwarung terdekat dan salat maghrib – isya.

Perjalanan kami diiringi dua perempuan yang kebetulan sudah hafal jalur ini. Di awal perjalanan saya nampak tidak ada kendala, tidak seperti sebelumnya yang sedikit dikit  minta istirahat. Sampai pada separuh lebih perjalanan tiba-tiba saya merasa mual seperti akan mengeluarkan sesuatu dan sooooorrrr muntahan tak bisa lagi dihindari. Ingatan saya melayang pada salah satu kawan di Semarang yang pernah cerita bahwa pertama kali ia muncak ia mengalami muntah diperjalanan, tapi setelah itu badan enteng katanya.

Hal itu juga yang saya rasakan, badan langsung terasa enteng meskipun faktor pergantian tas ransel ringan juga mempengaruhi.

Setelah perjalanan sekitar dua jam, puncak akhirnya kami gapai, sangat capek dan sesekali nafas tersengal. Namun recovery saya terhitung cepat, itu dibuktikan dengan saya langsung ikut bantu mendirikan tenda. Tidak demikian dengan Khoiron, dari awal ia nampak kurang sehat, sakit memang sudah ia idap 2 hari sebelum muncak. Walhasil setelah tenda berdiri ia langsung tidur

Kami segera masak sosis dan menyeduh kopi sambil sesekali menggunjingkan keadaan. Saya orang kedua yang tidur setelah Khoiron. 

Sayup-sayup pengajian gus Baha terdengar dari mp3 salah satu kawan, ketika pengajian berhenti saya kembali terjaga. Seakan berhentinya lantunan ceramah tadi seperti selimut yang ditarik dari balutan tubuhku.

Aku bangkit, begitupun Angga yang tidur disampingku “ jam piro iki?” tanyanya.

 

sek jam telu Ngga” jawabku.”Kawit mau kok jam telu wae” keluh Angga sambil menunjukkan ekspresi menggigil yang tak bisa ia sembunyikan.

turuo sek am telu ki”  tukas Riski. “la iyo” Huda menimpali dengan ekspresi terganggu atas kegaduhan kami berdua.

Angga terus mengajakku bercanda sambil merapartkan dada dan lututnya, tangannya melingkar mengitari kedua kakinya yang ia tekuk rapat-rapat. Sementara kami bertiga aku, Huda dan Riski tetap dalam posisi berbaring.

Angin kencang disertai embun deras memang mewarnai malam kami, tenda kami basah, air sedikit meresap. Pakaian yang kami memang tak sampai basah namun dingin terasa masuk hingga ke sendi-sendi tulang.

mapano kene lo Ngga” pintaku pada Angga untuk segera tidur kembali, ia tidak mau dengan alasan tepat di atas alas tidurnya terdapat akar pohon timbul ke atas permukaan tanah yang mengngganjal punggungnya. Ada ada saja batinku.

Setelah itu tiba-tiba aku terbangun lagi, mendapati langit mulai cerah, namun kabut sangat tebal. Ekspektasi pemandangan lawu yang kami impikan jauh-jauh hari tak tampak. Harapan itu sirna, meskipun kabut sempat tersibak untuk menujukkan indahnya pemandangan lawu yang indah pada kami, nyatanya itu tak berlangsung lama dan tidak sempat mengabadikannya. Biarlah mata dan memori ini yang mengabadikan untuk sesekali kami ingat dikemudian hari.

Waktu menunjukkan pukul 08.30 WIB meskipun registrasi kami sampai pukul 10.00 wib kami melihat para pedndaki di sekliling kami mulai mengemas tenda kabutpun menunjukkan tidak ada tanda – tanda untuk hilang. Akhirnya kami turut bergegas, bareng bareng turun.

Lima menit perjalanan, turun gerimis dengan intensitas sedang mengiringi kami, aku dan Huda sempat berbincang bahwa gerimis ini efek dari kabut tebal. Tak berselang lama ternyata dugaan kami salah.

Tanpa aba-aba hujan turun dengan sangat lebat, kami bergegas mengamankan gawai, tas serta memakai mantel, awalnya aku tak yakin kami turun dengan keadaan hujan deras ditambah Khoiron sudah tiga kali terjatuh. Akhirnya Is salah satu kawan paling berpengalaman perihal naik gunung meykainkan bahwa kami bisa turun dengan menapaki aliran air untuk menghindari medan licin. Setapak demi setapak kami melewati medan curam.

Ditengah perjalanan badai angin berhembus kencan kami meutuskan istirahat bersamaan dengan rombongan lain. Setelah  dirasa cukup aman, kami melanutkan perjalanan hingga tak terasa pos regitstrasi di depan mata. Di depan gerbang kami sempatkan berswafoto. Hujan saat itu masih lumayan deras dan kami memutuskan langsung pulang. Sekian   

 

Share:

Jumat, 11 Desember 2020

Tentang Hilangnya Cita Rasa Pedas Dari Masakan Ibu.

 




Sampai detik ini saya masih menganggap masakan ibu merupakan masakan paling enak. Barangkali klaim saya jamak dirasakan oleh anak pada ibunya. Sosok yang memasakkan kita dari kecil sehingga  cita rasanya sudah ngapal di lidah kita sebagai anak atau kita bisa request sesuka hati hingga ibu kita juga hapal selera anaknya.

Catatan ini saya buat setelah belakangan saya sadar ada pergeseran cita rasa masakan ibu terhadap apapun yang ia masak. Beliau sudah tak mau lagi atau lebih tepatnya tidak kuat memakan makanan pedas. Ibu punya riwayat mag, beberapa kali sakitnya kambuh karena tak sengaja kemasukan makanan pedas, setidaknya  itu penyebab yang ia yakini. Paling mutakhir malam ke-dua puluh delapan bulan puasa tahun  kemarin. Setelah selesai membaca Alquran sebuah syukuran kecil dilaksanakan jamaah ibu-ibu musholla RT. Acaranya makan-makan dengan menu tumpeng serta lalapan hasil olahan-olahan ibu-ibu jamaah sendiri, teknisnya dibagi tugas sesuai kesepakatan mereka . Mereka mengaji sendiri, syukuran juga masak sendiri hal yang nampaknya terlalu merepotkan untuk kaum bapak-bapak.

Tepat diacara syukuran kecil-kecilan itulah ibu tak sengaja kebagian lalapan krawu pedas. Besok malamnya beliau tak kuasa menahan rasa sakit sampai hari lebaran kupat. kurun waktu yang tidak sebentar sementara ibu memlih menahan rasa sakit di rumah dengan minum obat seadanya dari mantri desa. Kami anaknya sebenarnya tak kurang-kurang membujuknya untuk bersedia dirujuk ke rumah sakit, hingga pada suatu malam ia tak kuat menahan sakit. Rasa sakit luar biasa yang akhirnya meruntuhkan pendiriannya. Kami sudah siap-siap pergi ke rumah sakit, jam dinding menunjukan pukul 23.00 WIB. Saat motor sudah siap dinyalakan tiba-tiba ibu bilang ingin buang air besar, setelah selesai buang air besar ia mengaku sudah baikan dan kamipun tak jadi ke rumah sakit.

Esoknya ibu mengaku sudah sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa, ya secepat itu. Semalam mengeluh luar biasa, paginya mengaku sembuh. Saya sejujurnya tidak benar-benar bisa membedakan beliau sembuh dalam arti yang sesungguhnya atau hanya ingin semua terlihat baik-baik saja. Yang jelas setelah itu keadaan memang baik-baik saja. Namun tidak untuk cita rasa masakan ibu. Akumulasi kambuhnya mag ibu membuatnya seperti tak lagi bisa membedakan mana masakan pedas dan tidak.

Ibuku sama seperti ibu pada umumnya yang selalu mengerti apa cita rasa masakan anaknya. Saya suka masakan asin-pedas. Ibuku tahu itu sehingga setiap masakan yang ia hidangkan untuk-ku sudah pasti memenuhi syarat di atas. Beda cerita dengan almarhum bapak yang sudah lama juga tak makan pedas, kalau bapak perkaranya penyakit lambung. Ibu dan bapak punya satu cita rasa masakan yang sama, sama-sama anti pedas,intensitas memasakkan hidangan untuk bapak jauh lebih tinggi daripada saya yang sejak kecil merantau. Barangkali perkara terakhir juga punya pengaruh.

Setelah bapak meninggal dan saya menetap di rumah, hidangan ibu perlahan mulai saya rasakan berubah. Saya sendiri kurang tahu kapan tepatnya ibu tak lagi “bisa” masak masakan pedas. Hanya aspek asin-manis yang tersisa, rasa pedas sudah hilang sama sekali. Terakhir beliau masak rica-rica

“kali ini rica-ricanya pedas banget lo, coba cicipin kurang pedas nggak?”  seloroh ibu setengah mengingatkan. Peringatan yang rasa-rasanya sudah sering ibu sampaikan dan seperti biasa setelah mencicipi satu irisan daging saya tak merasakan sama sekali rasa pedas, hanya asin dan manis khas bumbu rempah-rempah. Ibu tahu masakannya kurang pedas atau bahkan tak pedas sama sekali setelah melihat ekspresi wajah anaknya yang menandakan raut muka datar.

“padahal udah tak tambahi mrica dan lombok dua kali lipat dari biasanya, tak cicipi pedas banget”. Klaimnya dengan penuh semangat. Klaim soal hilangnya aspek pedas dalam maskan ibu ini juga diakui oleh sanak famili, mulai bude,bulek hingga keponakan.

Sesungguhnya catatan ini dibuat bukan untuk menggugat masakan ibu (naudzubillah) tapi sebaliknya seperti sudah saya tegaskan pada kalimat pertama tulisan ini, masakan ibu tetap tak tergantikan. Terkadang banyak aspek untuk menilai suatu masakan termasuk hubungan biologis, memang subjektif sih tapi apa yang salah dari penilaian subkjektif-ku? Toh tidak ada yang dirugikan. Ibu adalah figur yang memasakkan dan menyuapi anaknya hingga mampu mandiri makan dan masak sendiri. Ia tak tergantikan. Semandiri apapun sang anak, ibu tetap memasakkan anaknya sebagi manifestasi kasih sayangnya tanpa batas.

Mengenai cita rasa pedas yang hilang dari masakan ibu, saya cukup mandiri untuk sekedar membuat sambel plelek.

           

                                                                                                Polorejo, 11 Desember 2020

Share:

Sabtu, 29 Februari 2020

Menjadi Pecundang di Pare


Hari ini aku memutuskan untuk pulang kerumah, tidak melanjutkan  studiku di Pare. Keputusan yang mungkin orang menilainya tergesa-gesa, gegabah serta tanpa pertimbangan  matang. Apapun itu, inilah  keputusanku. Diluar diriku pribadi, tidak ada yang salah. Fakta-fakta bahwa aku terlalu malas, tidak cukup effort untuk meng-improve skill bahasaku adalah sedikit dari sekian alasan mengapa aku harus segera pulang ditengah periode belajar yang masih tersisa tiga minggu.
Aku belajar disini ditopang keuangan keluarga, lebih tepatnya ibuku selepas kepergian bapak.  Sesuatu yang tak pantas ditengah kemalasan belajarku. Ditengah usiaku yang tak lagi ABG. Terkadang motivasi, nasihat, masukan-masukan dari kawan dibutuhkan dalam keadaan seperti ini.
Tapi kali ini aku tidak memerlukan itu. sudah terlampau banyak masukan berharga dari kawan-kawan, dari orang-orang yang menyayangiku. Namun faktanya sampai detik ini tak sedikitpun terejawentahkan. Namun setidaknya semua itu masih tersimpan di memori dan sanubari hati.
Aku harus menghukum diriku sendiri, pulang kerumah mengais ekonomi secara mandiri sambil menemani ibu di rumah. Kupikir sudah terlalu lama aku merantau. Selepas tamat SD hidup di pesantren hingga tamat MA setelah itu lima tahun kuliah di Semarang. Selama itu pula aku “nyusu” orang tua.
Sementara aku harus mengubur mimpi-mimpiku untuk menempuh magister hingga menjadi dosen. Seakan pribadi ini membentak diri sendiri. “jangan bermimpi muluk-muluk sebelum kau bisa merubah dirimu menjadi lebih disiplin, mengaplikasikan nasehat-nasehat kecil yang kau anggap klise nan memuakkan itu”.
Walau bagaimanapun Pare mengajarkanku banyak hal, setidaknya orang-orang yang bertahan disini adalah orang-orang yang benar-benar fight. Tidak sepertiku yang memilih menjadi pecundang. Namun dilubuk hati yang paling dalam aku masih berharap dapat terus belajar, mengulik sekecil apapun itu tentang bahasa inggris, khususnya membaca dan mendengar.
Ibu, Bapak maafkan anakmu yang tak bisa menepati janjimu untuk sungguh-sungguh belajar di Pare. Anakmu sadar seribu kali ampunan dan sujud tak akan menghapus dosa ini. Anakmu akan terus berusaha berproses buk, pak. Menjadi manusia yang ibu, bapak inginkan dengan caranya sendiri. Anakmu hanya butuh restumu. Sekali lagi maaf.   
Akhirnya kali ini aku memilih kerasnya kehidupan untuk menasehatiku agar menjadi pribadi lebih baik.
Pare, 1 Maret 2010.
Pecundang


Share:

Kamis, 21 November 2019

Pepeling Pare!

Catatan ini kubuat sehari sebelum aku bertolak ke Pare Kediri. Tepatnya setelah ditanya orang tua perihal finansial selama di sana. Aku jawab sekenanya-apa adanya bahwa aku tidak punya tabungan, bapak menimpali dengan kalimat kekecewaan, dikiranya pasca aku kuliah dan menetap 2-3 bulanan di Semarang untuk menabung. Padahal jujur untuk sekedar bertahan hidup-pun uang hasil les privat itu tidak cukup.
Aku memutuskan “hijrah” ke Pare Kediri untuk les bahasa inggris pasca kuliah S1 ku selesai. 


Ditengah kerentanan hidup,insecurity, tekanan untuk segera bekerja dari keluarga pergi ke Pare mungkin bukan pilihan yang menarirk untuk saat ini, walaupun jika ditanya aku mau jadi apa dan kemana pasca les, aku belum nemu juga jawaban pastinya.
Tapi setidaknya harapanku pasca di Pare aku bisa lebih ringan dan punya kemampuan “lebih” dalam mengakses dan memahami teks-teks inggris, syukur –syukur bisa dapat beasiswa kuliah. Bagaimana jika tidak dapat beasiswa? Ya aku akan cari pekerjaan seadanya aku, akan menabung dan kuliah di kampus dalam kota. Itu saja? iya, sebuah harapan yang sangat tidak financialable ditengah situasi di atas.
Tapi yang jelas catatan pendek ini kubuat untuk kepentingan jangka pendek. Yakni perihal keseriusanku belajar bahasa inggris di Pare. Beberapa faktor yang membuatku harus serius  tekun dan sungguh-sungguh belajar bahasa inggris.

Uang Dari Orang Tua


Biaya selama di Pare tidak murah dan aku bukan orang kaya, maka dari itu selagi orang tuaku masih sanggup membiayaiku, aku harus sunggu h-sungguh dosa besar jika aku tidak disiplin. Ingat aku bukan anak kecil lagi, sebenarnya bukan saatnya lagi  aku minta uang makan ke orang tua! Jadi untuk kali ini jangan sia-siakan kesempatan imi.

OrangTua Sakit

Jika aku mulai malas ,ingatlah bagaimana penderitaan bapakmu menahan sakit, bagaimana ibuku seharian penuh menunggu dan melayani ayahku. Tidak ada alasan buat aku untuk santai-santai dan bermalas-malasan.
  

Pilihanmu Sendiri

Walaupun baligh sudah lama, baru dalam kesempatan ini aku benar-benar memilih dengan pertimbangan serius keputusan pergi ke Pare. Dahulu ketika mengambil jurusan Falak. Tidak ada pertimbangan mendalam memilih jurusan ini selain “ingin beda aja” dari kebanyakan yang lain. Artinya aku berani memilih maka aku harus mempertanggung jawabkan. Dengan apa? Dengan belajar sungguh-sungguh dan tekun!.

Tidak perlu alasan banyak! Catatan ini cukup untuk dibaca sewaktu-waktu jikalau malas mulai melanda. Semoga Tuhan dan semesta merestui. Aamiin.



Share: