Jumat, 28 November 2025

Kado dari Tuhan.

Mas badanku gak enak, aku tidur di Sampung ya”. Pesan singkat istriku lewat gawai. Aku berpikir sakit itu karena faktor kelelahan akibat beberapa hari sebelumnya kami sekeluarga berlibur camp di pantai Srau Pacitan.  Keesokan harinya kutengok keadaannya belum membaik, akhirnya lusa kami putuskan untuk periksa ke puskesmas, awalnya diagnosis bidan darah rendah akibat sering makan timun serta tidur di lantai, dua hal yang memang gemar istriku lakukan.

Waktu itu aku harus pulang-pergi Sampung-Polorejo dikarenakan kegiatan perkemahan Pramuka di sekolah. Karena tak kunjung membaik akhirnya istri minta sekali lagi dirujuk ke Puskesmas, di sana istri bertemu bu bidan yang sudah akrab musabab sering sosialisasi kesehatan di tempat kerja istri. Setelah mendengar keluhan istri bu bidan menganjurkan untuk tes pack.

 

Trauma Test Pack

Setiba di rumah, istri cerita perihal anjuran bu bidan, saya pun ikut mendukung anjuran tersebut mengingat kebetulan istri juga sudah terhitung terlambat haid. Namun dia menolak, hal ini wajar belaka mengingat selama setahun penantian hamil beberapa kali istri mengalami gejala menyerupai ibu hamil mulai dari mual, tidak enak badan hingga telat haid beberapa hari, sampai- ia tes pack berkali-kali dengan hasil bayangan samar garis dua yang dianggapnya positif hamil hingga akhirnya waktu yang menyanggah. Perasaan exited di awal seketika patah hancur berkeping-keping. Ia selalu minta maaf, merasa bersalah karena tak kunjung dapat memberikan keturunan. Kubelai halus rambutnya sambil berucap lirih untuk kesekian kalinya “kita ikhitiarkan bersama lagi ya”. Pengalaman itulah yang membuatnya trauma melakukan test pack. Aku pun tak memaksanya, toh kalaupun beneran hamil pasti akan ketahuan.

 

Kepastian dari Dokter.

Tak ada hingar-bingar, tak ada perayaan berlebihan, pun tak ada eskpresi membuncah dari wajah kami. Hanya untaian ucapan syukur yang keluar dari mulut kami. Kami memang sejak awal menikah telah mengupayakan lahir batin kehamilan ini. Terutama istri rutin membeli vitamin,olahraga, memperbaiki pola makan kami hingga konsultasi bidan baik ofline maupun online. Tak luput ibadah malam serta rapalan doa demi doa tak putus kami lantunkan khusus untuk hajat kehamilan ini. Tuhan akhirnya mengabulkan doa kami. Kepastian kehamilan ini kami dapat setelah istri akhirnya mau melakukan test pack dengan hasil garis dua dan untuk memastiaknnya kami periksa ke dokter kandungan. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.

 

Masa menanti

Anak adalah karunia Tuhan, ia bagian dari misteri Ilahi sama halnya seperti hidup – mati dan jodoh, kita hanya dapat berikhtiar selebihnya Tuhanlah yang menentukan. Dalam masa penantian kehamilan, kami (terutama istri) belajar banyak hal mengenai berbagai jenis vitamin penunjang hamil dari medis, herbal hingga pola makan dan olahraga ideal untuk progam hamil. Kami juga belajar bagaimana merespon berbagai pertanyaan mengenai kapan istri hamil. Tak semuanya kami lalui dengan mulus, tak terhitung berapa kali kami terpuruk, menangis-meratapi kata demi kata yang menyakitkan itu. Tentu saya menyadari dalam hal ini istri yang paling rentan, karena istri yang hamil sudah barang tentu beban ada padanya. Saya sebagai suami hanya bisa menguatkan, memberikan sepatah dua patah motivasi sekaligus menekankan padanya bahwa derajat wanita tak akan berkurang sejengkal pun andai ia tak ditakdirkan punya anak pun tak elok rasanya jika kita kufur nikmat hanya karena tak ditakdirkan punya momongan dibanding nikmat tak terhitung yang telah diberikan Tuhan pada kita.
Kami berkomitmen menjadikan momen penantian ini sebagai ajang mempersiapkan diri menjadi orang tua (meskipun pada akhirnya kami tak benar – benar siap) sekaligus belajar untuk menerima takdir terbaik yang diberikan Tuhan.

 

Nak, sejak awal Bapak yakin kau akan lahir di dunia ini entah kapan Tuhan mentakdirkannya, Mamamulah yang sejak awal mencemaskanmu dan itu wajar belaka. Maka dalam masa penantianmu, hingga hari ini usiamu 13 minggu Mamamu yang paling merasakan penderitaan menanti serta mengandungmu. Tak nafsu makan, mual, sakit di sekujur tubuh dirasakannya tiap hari. Nanti di usia puluhan minggu kamu akan diajak mamamu mengerjakan tugas akhir kuliah hingga berbagai tugas administrasi madrasahnya, mohon kerja samanya ya. Bapakmu hanya sesekali memijat ibumu dan membelikan makanan yang ingin ia makan.  

Jika kau sudah lahir kelak kau akan mendengar kata IBU,IBU,IBU percayalah bahwa itu benar belaka.

 

Kami tunggu kelahiranmu di dunia dengan wajah bahagia selamat sentosa.

 

 

Share:
Lokasi: Polorejo, Kec. Babadan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar