Malam Jum’at kegiatan rutin Dzibaiyah
diganti dengan motivasi dari salah satu santri Al-Jannah yang “sukses”
menjadi dosen. Saya mendengar kabar itu kamis sore dari seorangteman waktu
nobar Indonesia vs Kamboja.
Timnas harus menang dengan margin tiga gol untuk memastikan tiket
semifinal, atau menang berapapun skornya asalkan salah satu dari Thailand dan
Vietnam bersamaan bertanding salah satunya kalah. Ditengah suasana hati yang
gelisah menunggu gol yang tak kunjung datang, saya mendapakatkan info perubahan
jadwal itu.
“lagi-lagi motivasi” gumam saya, dan saya yakin keluhan saya dirasakan
juga oleh teman-teman saya hehehe. Saya langsung punya inisiatif untuk bolos.
Kebetulan teman saya pulang kampung dan
minta tolong saya untuk mengantarkannya ke stasiun tawang, keretanya
berangkat jam 22.00 WIB, wah lumayan ini bisa buat alasan.
Pukul 21.00 WIB saya berangkat ke tawang,sampai sana saya langsung
pulang. Kira-kira nyampek pondok jam 21.55 WIB, saya sengaja melaju dengan
kecepatan rendah dengan harapan sampai pondok kegiatan selesai, malam itu
rencana teman-teman pondok mau futsal setelah kegiatan.
Setelah sampai pondok ternyata masih sepi,kegiatan belum selesai, pukul
22.30, ternyata baru selesai acara dan futsalpun terpaksa nggak jadi.
“lama ya kang motivasinya?” Tanya
saya kepada salah satu teman yg kebetulan juga santri baru dengan intonasi sedikit provokatif, “ wah iya
mas, jadi bosen mas, bisa –bisa hidup saya sukses mas kalau begini terus
kegiatannya” selorohnya dengan sedikit konotasi plus nada jengkel. Saya
pun terpingkal –pingkal .
“wah kalau kamu ikut han,pasti kamu langsung ngersulo (mengeluh).
“ temanku santri senior pondok menimpali. Emang ada apa?, intinya apa mas?
Tanyaku penuh selidik. “intinya pesan pak yai, orang pintar itu g harus banyak
membaca, yang penting ngabdi, dengan meunujuk mas munif sebagai contohnya”.
Aku mengerutkan dahi “ he mas, mas munif itu lo bukunya dikamar se – abrek,
lintas keilmuan dari manajemen,falak,Fiqh, ideologi, buku kiri-kanan ada semua,
bukannya saya melarang atau ilfiil pada
orang yang ngabdi di pondok, ngabdi itu baik, melatih keihlasan dan
kemandirian, tapi dalam konteks ilmu, kalau pengen pintar ya harus
belajar-membaca. Memang ada istilah ilmu laduni ( semacam ilham dari Tuhan/ilmu
yang di ajarkan oleh Allah melalui nabi
Khidir) tapi perlu di ingat ilmu laduni itu langka wa fii ladunni
laduni qoola wafi # Qodni qothni aidlon qad yafi, (nukil bait Alfiyyah) dari pada sibuk indoktrinasi perkara langka,
lebih baiak indoktrinasi santri tentang perlunya belajar dan membaca, karena
orang pintar jelas butuh proses yang tidak gampang. Ulama- ulama Islam dari
Timur tengah hingga barat banyak kok contohnya , filsuf macam Ibn Al- :Arabi hingga Mas Phutut EA pun
juga mengalami proses belajar-membaca, bahkan wa qiil KH Abdurrahman
Wahid yang menurut beliau sendiri gagal dibidang akademik ketika kuliah di Al-
Azhar itupun rajin baca, buktinya perpustakan besar di Baghdad buku-bukunya
penuh coretan beliau, dan konon mohon maaf mata beliau yang saikit parah itu
dikarenakan saking candunya beliau akan membaca ”. Jawabku panjang lebar. “Ya
to, ngersuloooo” jawab teman seniorku enteng.
Musholla
At-TAubah, Beringin, Naliyan, Semarang 25-8-2017
0 komentar:
Posting Komentar