Minggu, 27 Agustus 2017

Indoktrinasi 1/2-1/2



Malam Jum’at kegiatan rutin Dzibaiyah  diganti dengan motivasi dari salah satu santri Al-Jannah yang “sukses” menjadi dosen. Saya mendengar kabar itu kamis sore dari seorangteman waktu nobar Indonesia vs Kamboja.
Timnas harus menang dengan margin tiga gol untuk memastikan tiket semifinal, atau menang berapapun skornya asalkan salah satu dari Thailand dan Vietnam bersamaan bertanding salah satunya kalah. Ditengah suasana hati yang gelisah menunggu gol yang tak kunjung datang, saya mendapakatkan info perubahan jadwal itu.
“lagi-lagi motivasi” gumam saya, dan saya yakin keluhan saya dirasakan juga oleh teman-teman saya hehehe. Saya langsung punya inisiatif untuk bolos. Kebetulan teman saya pulang kampung dan  minta tolong saya untuk mengantarkannya ke stasiun tawang, keretanya berangkat jam 22.00 WIB, wah lumayan ini bisa buat alasan.
Pukul 21.00 WIB saya berangkat ke tawang,sampai sana saya langsung pulang. Kira-kira nyampek pondok jam 21.55 WIB, saya sengaja melaju dengan kecepatan rendah dengan harapan sampai pondok kegiatan selesai, malam itu rencana teman-teman pondok mau futsal setelah kegiatan.
Setelah sampai pondok ternyata masih sepi,kegiatan belum selesai, pukul 22.30, ternyata baru selesai acara dan futsalpun terpaksa nggak jadi.
“lama ya kang  motivasinya?” Tanya saya kepada salah satu teman yg kebetulan juga santri baru  dengan intonasi sedikit provokatif, “ wah iya mas, jadi bosen mas, bisa –bisa hidup saya sukses mas kalau begini terus kegiatannya” selorohnya dengan sedikit konotasi plus nada jengkel. Saya pun terpingkal –pingkal .
“wah kalau kamu ikut han,pasti kamu langsung ngersulo (mengeluh). “ temanku santri senior pondok menimpali. Emang ada apa?, intinya apa mas? Tanyaku penuh selidik. “intinya pesan pak yai, orang pintar itu g harus banyak membaca, yang penting ngabdi, dengan meunujuk mas munif sebagai  contohnya”.  Aku mengerutkan dahi “ he mas, mas munif itu lo bukunya dikamar se – abrek, lintas keilmuan dari manajemen,falak,Fiqh, ideologi, buku kiri-kanan ada semua, bukannya saya melarang atau  ilfiil pada orang yang ngabdi di pondok, ngabdi itu baik, melatih keihlasan dan kemandirian, tapi dalam konteks ilmu, kalau pengen pintar ya harus belajar-membaca. Memang ada istilah ilmu laduni ( semacam ilham dari Tuhan/ilmu yang di ajarkan oleh Allah melalui nabi  Khidir) tapi perlu di ingat ilmu laduni itu langka wa fii ladunni laduni qoola wafi # Qodni qothni aidlon qad yafi, (nukil bait Alfiyyah)  dari pada sibuk indoktrinasi perkara langka, lebih baiak indoktrinasi santri tentang perlunya belajar dan membaca, karena orang pintar jelas butuh proses yang tidak gampang. Ulama- ulama Islam dari Timur tengah hingga barat banyak kok contohnya , filsuf  macam Ibn Al- :Arabi hingga Mas Phutut EA pun juga mengalami proses belajar-membaca, bahkan wa qiil KH Abdurrahman Wahid yang menurut beliau sendiri gagal dibidang akademik ketika kuliah di Al- Azhar itupun rajin baca, buktinya perpustakan besar di Baghdad buku-bukunya penuh coretan beliau, dan konon mohon maaf mata beliau yang saikit parah itu dikarenakan saking candunya beliau akan membaca ”. Jawabku panjang lebar. “Ya to, ngersuloooo” jawab teman seniorku enteng.

Musholla At-TAubah, Beringin, Naliyan, Semarang  25-8-2017


Share:
Lokasi: Ngaliyan, Semarang City, Central Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar