Selasa, 26 Desember 2017

MENYOAL STATEMENT KETUM PSSI PERIHAL“NASIONALISME”



MENYOAL STATEMENT KETUM PSSI PERIHAL“NASIONALISME”

Belakangan penulis banyak membaca headline berita –berita di portal media online yang memberitakan kebijakan ketum PSSI Edy Rahmayadi terkait pelarangan pemain timnas (terutama Evan Dhimas  & Ilham Armayn ke Selangor FC) untuk bermain di luar Negeri dengan dalih tidak Nasionalis dan hanya mementingkan uang semata. seperti diketahui  latar belakang statemen beliau ini ditenggarai hijrahnya dua pemian timans Evan Dhimas dan Ilhamudin Armayn ke Selangor FC.
Ada dua ketakutan Ketum PSSI Edy Rahmayadi sehingga mengeluarkan pernyataan yang cenderung otoriter itu.
Pertama  dia takut permainan Evan dan Ilham mudah dibaca lawan, terutama Malaysia yang merupakan musuh bebuyut Indonesia. Beruntungnya kita tidak melihat logika seperti ini dipakai oleh federasi –federasi diluar Negeri, Portugal & Argentina misalnya, tidak melarang Ronaldo dan Messi untuk hijrah keluar Negeri dengan alasan tidak Nasionalis, jika sampai itu terjadi niscaya tidak ada perdebatan di Dunia ini tentang siapa the king of elclasico diantara keduanya.
 Kedua  Edy takut hijrahnya dua pemain tersebut mengganggu persiapan timnas menuju Asian Games 2018, maklum selain punya target empat besar di Asian Games, FIFA hanya mewajibkan klub melepas pemainnya jika ada agenda timnas. Saya kaget untuk alasan kedua ini,ternyata dibalik jiwa Nasionalisme dan Patriotnya yang luar biasa, ternyata ketum PSSI rangkap Pangkostrad TNI, Ketum PSTNI serta calon Gubernur Sumatra Utara ternyata punya rasa takut juga. Ra sumbut!
Meskipun statemen kontroversi mengenai pelarangan pemain Timnas bermain diluar Negeri telah diklarifikasi Sekjen Ratu Tisha Destria, tapi berita sudah kadung tersebar ditengah kalangan masyarakat, pecinta sepakbola tanah air juga kadung gregetan, klarifikas tersebut malah menandakan tidak adanya koordinasi antar pengurus terlebih antar atasan dan bawahan.
 Dalam sebuah tulisan dikolom Detik.com sampai menganjurkan adanya Jubir khusus untuk sang ketum (baca:detik.com “perlunya ketum PSSI memiliki juru biacara) agar tidak gegabah serta  cenderung sembrono dalam mengeluarkan peryataan, entah itu dari gagasan pribadinya sebagai Ketum PSSI maupun soal kebijakan resmi PSSI.
Banyak kalangan menilai sikap otoriter pak Edy disebabkan background tentaranya, penilaian itu terlalu dangkal menurut penulis, walaupun tidak bisa diakatakan salah juga. Kalau kita menilik sejarah, sebelum pak Edy banyak mantan ketum PSSI yang punya background tentara. Sebut saja pak Ali Sadikin ( 1977-1981) Komandan Angkatan Laut, pak Kardono (1983-1991) mantan Jendral bintang tiga era orde baru, pak Agum Gumelar (1993-2003) mantan alumnus Akademi Militer Nasional Magelang yang juga mantan menteri perhubungan dan pertahanan Nasional. (baca: mojok.co)

Pertanyaanya di era mantan ketum PSSI diatas apakah tidak ada pemain timnas yang hijrah keluar Negeri? Apakah para mantan Ketum PSSI pada eranya melarang pemain Timnas bermain diluar Negeri?. Kita tahu banyak pemain Timnas yang bersinar diluar Negeri pada eranya, sebut saja dari Ristomoyo Kassim, Robby Darwis,Kurniawaan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas hingga paling mutakhir Andik Vermansyah. Pemain – pemain tersebut tak pernah dilarang oleh ketum PSSI pada masanya.

Adakah yang salah jika pemain berkarier diluar Negeri?

Untuk menjawab sub-judul diatas, kolom panditfootbaal.com edisi 20/12/2017 “nasionalisme semu dari  Ketum  PSSI” memaparkan beberapa penelitian tentang hal di atas
Peneliti dari University of Ulster menunjukkan jika para pemain Ghana bisa tersebar ke seluruh Afrika Barat, Eropa, dan Asia, untuk selanjutnya menguatkan timnas mereka dari segi peringkat FIFA, bermain di tiga Piala Dunia berturut-turut (2006, 2010, dan 2014), dan menjadi runner-up Piala Afrika (empat kali sejak penelitian dilakukan).
Sementara itu, penelitian dari University of Bangor menunjukkan jika persebaran pemain-pemain bertalenta dari Afrika, Amerika Latin, dan Amerika Tengah bisa terjadi karena mereka membutuhkan kompetisi yang lebih baik untuk meningkatkan, bukan hanya kualitas permainan mereka dan tim nasional, tetapi juga kondisi ekonomi di negara mereka
Kalau kita merasa sangsi dengan dua penelitian di atas yang mengambil contoh negara-negara dengan budaya sepakbola lebih baik daripada Indonesia, kita bisa mengamati penelitian lainnya dari University of Leuven. Mereka menyimpulkan jika penampilan pemain tingkat nasional bisa meningkat pesat ketika mendapatkan dukungan kuat untuk bermain di luar negeri, terutama bagi negara-negara yang kualitas sepakbolanya masih rendah  Kecuali kita merasa Indonesia tidak memiliki kualitas sepakbola yang rendah.
Kita juga bisa melihat pemain –pemain timnas di luar Negeri, hampir dipastikan pemain yang berkarier di luar Negeri dipanggil Timnasnya, selain memiliki jam bermain tinggi diklub tentunya. Bukan malah sebaliknya,dicoret dari Timnas jika berkarir di luar Negeri!. Timnas Belgia hari ini misalnya yang banyak orang menyebut sebagai generasi emas, hampir tidak ada pemain Timnasnya yang bermain di Liga domestik.

Berkarir diluar Negeri merupakan sebuah kebanggaan

Bagi pesepakola meniti karir diluar Negeri khusunya di liga-liga yang sudah “maju” seperti di Eropa merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi setiap pemain, selain iklim kompetesi yang ketat, infrastruktur juga sangat memadai, mulai dari non-teknis seperti asupan gizi,gaji hingga yang bersifat teknis seperti tekhnik startegi dsb.

Pemain yang berkarir diluar negeri juga dituntut bisa beradaptasi dengan cepat mulai dari bahasa – hingga mental juang yang tangguh, jika hal-hal seperti itu lalai diperhatikan, bukan tidak mungkin si pemain akan terpental kembali ke kampung halamnannya. Seharusnya pak Ketum PSSI juga tahu diri! melarang pemain berkarir diluar negeri, disatu sisi kualitias liga dalam Negeri tidak bagus –bagus amat, kalau tidak bisa diakatan jelek.

Tentu masih segar dalam ingatan Pecinta sepakbola bagaimana PSSI menjatuhkan hukuman denda 100 juta rupiah kepada Mitra Kukar akibat memainkan Marque Playernya, disamping dinyatakan kalah 3-0 melawan  Bhayangkara hingga memuluskan langkah  Bhayangkara menjadi juara, belakangan diketahui ternyata PSSI lalai menyalin salinan nota larangan bermain (hukuman tambahan Komdis) sehingga pihak Mitra Kukar tidak mengetahui larangan bermain untuk pemainnya. Konyolnya lagi, putusan tersebut langsung di eksekusi sepihak tanpa memberi kesempatan  pihak Mitra Kukar untuk mengajukan banding.
Belum lagi soal regulasi liga yang berubah-ubah sepanjang musim,soal wajibnya memainkan pemain u-23 misalnya. Permainan Timnas yang bisa dibilang stagnan. Hingga dipecatnya Coach Indra Sjafri hanya karena menuai hasil buruk di kualifikasi Asia u-19 menjadi puncak akumulasi kebijakan PSSI yang menurut penulis perlu dikoreksi.
Soal Coach Indra kalau penulis boleh memberikan pembelaan, karena sudah dipastikan lolos keputaran final, coach Indra melakukan eksperimen saat kualifikasi, sayang hasilnya tidak maksimal dan harus dibayar mahal dengan dipecatnya sang pelatih. Mari kit
a jujur, diantara sekian Timnas kelompok umur hingga  senior hanya timnas u-19 yang permainannya “enak” ditonton.  Bertahun –tahun kita menyoal pembinaan usia dini, bertahun –tahun pula kita mengeluh soal itu.
Terakhir, untuk Pak Edy dan jajarannya masih ada segelintir orang yang percaya dan berharap persepakbolaan Negeri ini membaik. Permasalahan sepakbola di Negeri ini sudah banyak janganlah ditambahi dengan problem - problem  konyol nan tidak produktif.

Dari Pecinta Sepakbola Tanah Air
yang masih punya asa suatu saat Timnas Indonesia
akan bermain di Piala Dunia.




  
Share:
Lokasi: Jl. Imam Bonjol No.114, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50139, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar