MENYOAL STATEMENT KETUM PSSI PERIHAL“NASIONALISME”
Belakangan penulis banyak membaca headline berita –berita di
portal media online yang memberitakan kebijakan ketum PSSI Edy Rahmayadi terkait
pelarangan pemain timnas (terutama Evan Dhimas
& Ilham Armayn ke Selangor FC) untuk bermain di luar Negeri dengan
dalih tidak Nasionalis dan hanya mementingkan uang semata. seperti
diketahui latar belakang statemen beliau
ini ditenggarai hijrahnya dua pemian timans Evan Dhimas dan Ilhamudin Armayn ke
Selangor FC.
Ada dua ketakutan Ketum PSSI Edy Rahmayadi sehingga mengeluarkan
pernyataan yang cenderung otoriter itu.
Pertama dia takut permainan Evan dan Ilham mudah
dibaca lawan, terutama Malaysia yang merupakan musuh bebuyut Indonesia.
Beruntungnya kita tidak melihat logika seperti ini dipakai oleh federasi
–federasi diluar Negeri, Portugal & Argentina misalnya, tidak melarang
Ronaldo dan Messi untuk hijrah keluar Negeri dengan alasan tidak Nasionalis,
jika sampai itu terjadi niscaya tidak ada perdebatan di Dunia ini tentang siapa
the king of elclasico diantara keduanya.
Kedua Edy takut hijrahnya dua pemain tersebut
mengganggu persiapan timnas menuju Asian Games 2018, maklum selain punya target
empat besar di Asian Games, FIFA hanya mewajibkan klub melepas pemainnya jika
ada agenda timnas. Saya kaget untuk alasan kedua ini,ternyata dibalik jiwa
Nasionalisme dan Patriotnya yang luar biasa, ternyata ketum PSSI rangkap
Pangkostrad TNI, Ketum PSTNI serta calon Gubernur Sumatra Utara ternyata punya
rasa takut juga. Ra sumbut!
Meskipun statemen kontroversi mengenai pelarangan pemain Timnas
bermain diluar Negeri telah diklarifikasi Sekjen Ratu Tisha Destria, tapi
berita sudah kadung tersebar ditengah kalangan masyarakat, pecinta sepakbola
tanah air juga kadung gregetan, klarifikas tersebut malah menandakan
tidak adanya koordinasi antar pengurus terlebih antar atasan dan bawahan.
Dalam sebuah tulisan dikolom
Detik.com sampai menganjurkan adanya Jubir khusus untuk sang ketum (baca:detik.com
“perlunya ketum PSSI memiliki juru biacara) agar tidak gegabah serta cenderung sembrono dalam mengeluarkan
peryataan, entah itu dari gagasan pribadinya sebagai Ketum PSSI maupun soal
kebijakan resmi PSSI.
Banyak kalangan menilai sikap otoriter pak Edy disebabkan
background tentaranya, penilaian itu terlalu dangkal menurut penulis, walaupun
tidak bisa diakatakan salah juga. Kalau kita menilik sejarah, sebelum pak Edy
banyak mantan ketum PSSI yang punya background tentara. Sebut saja pak Ali
Sadikin ( 1977-1981) Komandan Angkatan Laut, pak Kardono (1983-1991) mantan
Jendral bintang tiga era orde baru, pak Agum Gumelar (1993-2003) mantan alumnus
Akademi Militer Nasional Magelang yang juga mantan menteri perhubungan dan
pertahanan Nasional. (baca: mojok.co)
Pertanyaanya di era mantan ketum PSSI diatas apakah tidak ada
pemain timnas yang hijrah keluar Negeri? Apakah para mantan Ketum PSSI pada
eranya melarang pemain Timnas bermain diluar Negeri?. Kita tahu banyak pemain
Timnas yang bersinar diluar Negeri pada eranya, sebut saja dari Ristomoyo
Kassim, Robby Darwis,Kurniawaan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas hingga paling
mutakhir Andik Vermansyah. Pemain – pemain tersebut tak pernah dilarang oleh
ketum PSSI pada masanya.
Adakah yang salah jika pemain berkarier diluar Negeri?
Untuk menjawab sub-judul diatas, kolom panditfootbaal.com edisi
20/12/2017 “nasionalisme semu dari Ketum
PSSI” memaparkan beberapa penelitian
tentang hal di atas
Peneliti dari University of Ulster menunjukkan jika para pemain
Ghana bisa tersebar ke seluruh Afrika Barat, Eropa, dan Asia, untuk selanjutnya
menguatkan timnas mereka dari segi peringkat FIFA, bermain di tiga Piala Dunia
berturut-turut (2006, 2010, dan 2014), dan menjadi runner-up Piala
Afrika (empat kali sejak penelitian dilakukan).
Sementara itu, penelitian dari University of Bangor menunjukkan
jika persebaran pemain-pemain bertalenta dari Afrika, Amerika Latin, dan
Amerika Tengah bisa terjadi karena mereka membutuhkan kompetisi yang lebih baik
untuk meningkatkan, bukan hanya kualitas permainan mereka dan tim nasional,
tetapi juga kondisi ekonomi di negara mereka
Kalau kita merasa sangsi dengan dua penelitian di atas yang
mengambil contoh negara-negara dengan budaya sepakbola lebih baik daripada
Indonesia, kita bisa mengamati penelitian lainnya dari University of Leuven.
Mereka menyimpulkan jika penampilan pemain tingkat nasional bisa meningkat
pesat ketika mendapatkan dukungan kuat untuk bermain di luar negeri, terutama
bagi negara-negara yang kualitas sepakbolanya masih rendah Kecuali
kita merasa Indonesia tidak memiliki kualitas sepakbola yang rendah.
Kita juga bisa melihat pemain –pemain timnas di luar Negeri, hampir
dipastikan pemain yang berkarier di luar Negeri dipanggil Timnasnya, selain
memiliki jam bermain tinggi diklub tentunya. Bukan malah sebaliknya,dicoret
dari Timnas jika berkarir di luar Negeri!. Timnas Belgia hari ini misalnya yang
banyak orang menyebut sebagai generasi emas, hampir tidak ada pemain Timnasnya
yang bermain di Liga domestik.
Berkarir diluar Negeri merupakan sebuah kebanggaan
Bagi pesepakola meniti karir diluar Negeri khusunya di liga-liga
yang sudah “maju” seperti di Eropa merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi
setiap pemain, selain iklim kompetesi yang ketat, infrastruktur juga sangat
memadai, mulai dari non-teknis seperti asupan gizi,gaji hingga yang bersifat
teknis seperti tekhnik startegi dsb.
Pemain yang berkarir diluar negeri juga dituntut bisa beradaptasi
dengan cepat mulai dari bahasa – hingga mental juang yang tangguh, jika hal-hal
seperti itu lalai diperhatikan, bukan tidak mungkin si pemain akan terpental
kembali ke kampung halamnannya. Seharusnya pak Ketum PSSI juga tahu diri!
melarang pemain berkarir diluar negeri, disatu sisi kualitias liga dalam Negeri
tidak bagus –bagus amat, kalau tidak bisa diakatan jelek.
Tentu masih segar dalam ingatan Pecinta sepakbola bagaimana PSSI
menjatuhkan hukuman denda 100 juta rupiah kepada Mitra Kukar akibat memainkan
Marque Playernya, disamping dinyatakan kalah 3-0 melawan Bhayangkara hingga memuluskan langkah Bhayangkara menjadi juara, belakangan
diketahui ternyata PSSI lalai menyalin salinan nota larangan bermain (hukuman
tambahan Komdis) sehingga pihak Mitra Kukar tidak mengetahui larangan bermain
untuk pemainnya. Konyolnya lagi, putusan tersebut langsung di eksekusi sepihak
tanpa memberi kesempatan pihak Mitra
Kukar untuk mengajukan banding.
Belum lagi soal regulasi liga yang berubah-ubah sepanjang
musim,soal wajibnya memainkan pemain u-23 misalnya. Permainan Timnas yang bisa
dibilang stagnan. Hingga dipecatnya Coach Indra Sjafri hanya karena menuai
hasil buruk di kualifikasi Asia u-19 menjadi puncak akumulasi kebijakan PSSI yang
menurut penulis perlu dikoreksi.
Soal Coach Indra kalau penulis boleh memberikan pembelaan, karena
sudah dipastikan lolos keputaran final, coach Indra melakukan eksperimen saat
kualifikasi, sayang hasilnya tidak maksimal dan harus dibayar mahal dengan
dipecatnya sang pelatih. Mari kit
a jujur, diantara sekian Timnas kelompok umur hingga senior hanya timnas u-19 yang permainannya “enak” ditonton. Bertahun –tahun kita menyoal pembinaan usia dini, bertahun –tahun pula kita mengeluh soal itu.
a jujur, diantara sekian Timnas kelompok umur hingga senior hanya timnas u-19 yang permainannya “enak” ditonton. Bertahun –tahun kita menyoal pembinaan usia dini, bertahun –tahun pula kita mengeluh soal itu.
Terakhir, untuk Pak Edy dan jajarannya masih ada segelintir orang
yang percaya dan berharap persepakbolaan Negeri ini membaik. Permasalahan
sepakbola di Negeri ini sudah banyak janganlah ditambahi dengan problem -
problem konyol nan tidak produktif.
Dari Pecinta Sepakbola Tanah Air
yang masih punya asa suatu saat Timnas Indonesia
akan bermain di Piala Dunia.
0 komentar:
Posting Komentar