Problem agraria,problem kita bersama.
(Catatan buku "Panggilan Untuk Tanah Air)
Judul Buku
|
Panggilan tanah air
|
Pengarang
|
Noer Fauzi Rahman Ph.D
|
Penerbit
|
Prakarsa Desa
|
Cetakan
|
2015
|
Tebal Buku
|
Vii+ 144 halaman, 14x 20cm
|
Di
Indonesia tidak banyak kita bisa menyebut pakar Agraria, Noer Fauzi Rahman satu
diantara segelintir itu, bukunya pun bisa kita temukan berserakan di berbagai rak
toko buku, beberapa diantaranya berjudul ; Petani dan Penguasa (1999)
buku yang memaparkan dinamika
sosio-politik agraria di Indonesia dan menyoal relasi petani dan penguasa dari
zaman feodal hingga pasca reformasi. Bersaksi untuk Pembaruan Agraria
(2003), dan Land Reform Dari
Masa ke Masa (2012). Tentu kesemua
buku tersebut membahas tentang tetek bengek soal agraria, persoalan yang
masih menjadi PR bangsa ini sampai
sekarang.
Pertanyaannya
kemudian apa yang ingin disampaikan Noer Fauzi dalam buku tipis berjudul Panggilan tanah air ini?
dalam pengantarnya dia mencoba mengajak pembaca untuk sejenak
berimajinasi – meromantisir lagu – lagu Nasional yang dulu pernah diajarkan
guru-guru kita sewaktu kecil macam Rayuan Pulau Kelapa dan Indosesia
Pusaka karya Ismail Marzuki (1914-1958), Tanah Airku karya Sarijdah
Niung Soedibio atau akrab disapa Ibu Sud
(1908-1993), lagu yang menggambarkan Tanah Air yang indah alamnya- subur
tanahnya-masyhur sampai dipuja – puja Bangsa, seakan tidak ada Negeri yang lebih elok dibanding Indonesia. Singkatnya
Indonesia adalah surga Dunia.
Setelah
selesai mengajak pembacanya berimajinasi melalui lagu – lagu karya pujangga
ternama tadi , selanjutnya Noer Fauzi “menyeret” pembaca untuk melek (melihat)
dunia nyata, Indonesia Tanah Air kita hari ini yang mana rakyatnya tidak lagi
berdaulat atas sumber daya alamnya Noer Fauzi berangkat dari TAP MPR RI NO.
IX/MPRRI/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam isinya
kurang lebih sebagai berikut : (i) ketimpangan (terkonsentrasinya) penguasaan
tanah oleh segelintir perusahaan, (ii) konflik agraria yang menjamur diberbagai wilayah
Indonesia, (iii) kerusakan ekologis yang parah membuat alam tidak lagi bersahabat
dengan rakyat. Tiga masalah ini hingga hari ini masih menghantui kita dan
sayangnya sampai hari ini tidak ada tanda-tanda upaya serius dari Pemerintah
untuk mengatasinya.
Noer
Fauzi melihat adanya sebuah gejala yang dia sebut sebagai reorganisasi ruang,
bahwa sebagian situasi tanah air yang porak-poranda tidak lepas dari efek
kapitaslime dimana orientasi keuntungan kepada pemilik alat produksi membuat
mesin terus indsustri dituntut bekerja terus menerus hingga terciptanya komoditi yang dinikmati secara massal,
kemammpuan sistem ini sebenarnya terletak pada bagaiamana ia mampu membuat
rakyat menjadi konsumen dengan segala caranya dan sayangnya sebagian dari kita
mengamini bahwa sistem kapitalis ini merupakan cara kerja yang given.
Dalam buku ini pembaca akan menemui bagaimana sistem kapitalis ini bekerja
terstruktur –sistematis-massif dan
ironisnya Negara memfasilitasi ekspansi kapitalisme sampai kepelosok desa,
padahal hal tersebut bertentangan dengan cita-cita Republik Indonesia yakni
Negara yang menjadi kekuatan pembebasan Rakyat.
Ajakan
menjadi Pandu untuk tanah air ini tidak hanya semata ditujukan untuk aktivis,
pemuda maupun pegiat LSM, melainkan seluruh element Bangsa ini, sekalipun
ia berada dilinkungan penguasa, hal ini
dimulai dari hal yang paling mendasar misalnya mereintepretasi ulang makna
“Pemerinthan” yang ia kutip dari tulisan
Hendro Sasongko (1999).
“
Pemerintahan sebagai mitos yang harus diterima sebagai ketentuan bagi rakyat,
yang nyaris diterima begitu saja dan dianggap brsifat alami. Dalam mitos yang sekarang
masih meelekat sebagai wacana publik itu, pemerintahan merupakan sebuah
pertunjukan tentang bagaimana mengelola sumber - sumber daya alam, orang,
barang, dan uang, dengan para pengelola negara sebagai pemain panggungnya dan
rakyat sebagai pengamat dan pembayar karcis pertunjukan. Partisipasi rakyat,
paling jauh adalah sebagai komentator atau kritikus pertunjukan. Ajakan
pembaruan cara dan agenda pemerintahan dengan demikian bersifat
mudah-mudahan,penuh harap pad para pengelola nehara yang baru serta pada
ketentuan – ketentuan yang dihasilkannya; sebuah koor nyaring dari bawah
panggung tentang reformasi, yang tetap takzim pada akar kata itu: perintah.
(hal.45)”. Dari deskripsi pemerintahan diatas pembaca diajak untuk berfikir
kritis bahwa minimal pemerintahan idealnya mempunyai prinsip partisipatoris / (top
down,bottom-up).
Diakhir
buku ini terdapat lampiran beberapa ringkasan
founding people’s seperti Soekarno (1933) “Mencapai Indonesia
Merdeka”, Tan Malaka (1925) Naar de Republiek Indonesia” , Mohammad
Hatta (1932) “Kea rah Indonesia Merdeka”
dan beberapa lampiran lagu Nasional serta putusan kongres pemuda. Pembaca
mencoba diingatkan kembali tentang cita-cita Republik ini. sekilas memang buku
ini menyoal problem multidimensi negeri ini lewat satu pintu khusus kajian tema
yakni Agraria.
Kemungkinannya ada dua pembaca akan tertarik
hingga kemudian menekuni kajian agraria ini atau sebailiknya dibuat kecewa
karena memang pembaca tidak tertarik dengan kajian agraria, bagi saya pribadi
walaupun buku ini terbit belakangan disbanding karya Noer fauzi yang lain ,
tapi sebenarnya buku ini adalah pintu awal kita untuk sengaja “menyeburkan
diri” dalam samudra khazanah kajian
agraria, karena selama reforma agraria sejati belum dilaksanakan maka selama
itupula sebenarnya kita melanggengkan kesenjangan ekonomi.
0 komentar:
Posting Komentar