Dinamisme – fleskibilitas
Membincang
soal asmara memang tidak ada habisnya, perosalan cinta muda-mudi terutama
dinamikanya bak rollercoster mengiringi kisah cinta kaum muda. Mulai nggak
berani nembak, putus cinta hingga nikung pacar orang. Konon katanya, pacar yang
didapat dari hasil nikung kompetitor asmara itu lebih “menantang” dan kayak
lebih puas perjuangannya daripada hanya melalui PDKT biasa, meskipun endingnya
kalau udah bosan putus dan cari yang lain atau
cari yang lain baru putus hehehe.
Tulisan
receh ini akan mendiskusikan perihal mahdzab (aliran) asmara yang kami (mengapa
kami ? karena istilah ini berawal dari obrolan ringan bersama kawan-kawan) sebut
sebagai mahdzab “ Dinamisme – Fleksibilitas”. Mari kita kupas akar katanya
dulu. Secara etimologi akar kata dinamisme adalah dinamis + isme (semacam untuk
menyebut aliran, ex: marxisme,komunisme dll) dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dinamis
artinya menyesuaikan diri dengan keadaan (baca: adaptif), adapun kata
Fleksibilitas dalam KBBI artinya luwes, mudah menyesuaikan diri. Jika digabungkan, secara terminologi dalam
konteks asmara Dinamis – Fleksibilitas adalah kemampuan dan kemauan seorang
pasangan laki-laki dan perempuan untuk menjalani pseudo hubungan asmara,
simpelnya saling suka tapi ya sudah jalani saja kira-kira begitu.
Penganut
mahdzab ini mengandaikan adanya prasyarat antardhin (meminjam istilah bai’)
atau saling rela dalam menjalani hubungan tanpa ikatan artinya keduanya saling
berkomitmen untuk hanya “sekedar jalan saja” tidak ada dusta diantara keduanya,melainkan
sama saling mengetahui-mengerti-dan memahami kondisi masing-masing. Biasanya
langkah ini diambil karena keduanya mengerti jika perasaan cinta tidak berarti
apa-apa tanpa adanya akad nikah, berhubung keduanya belum siap menikah maka
mereka menjalani saja. Menjalani yang dimaksud disini antara si laki-laki dan
perempuan bebas menjalani aktivitasnya tanpa ada kekangan dari salah satu dari
keduanya , bebas sebebasnya termasuk bergaul dengan lawan jenisnya. Layaknya
seperti hubungan filsuf Prancis Satre dan Beauvoir hubungan mereka Independent karena
tidak ingin melumpuhkan kebebasan masing-masing, mereka bebas menjalin hubungan dengan
siapapun tanpa mengendorkan komitmen cinta mereka.
Kembali
ke Dinamisme – Fleksibilitas, mengenai batasan-batasan dalam kebebasan penulis
menyerahkan kembali pada akad antara keduanya baik akad secara langsung maupun
tidak langsung. Loh maksudnya tidak langsung? Iya akad itu terjalin dalam hati
mereka, seakan hati mereka bilang “iya kita saling suka, ya udah kamu jalani
aku jalani aktivitasku,kamu juga jalani aktiviasku nanti kalau udah siap kita
nikah” mustahil? Cinta gak mengenal kata mustahil guys.
Memang penganut mahdzab ini rawan “terjatuh”
pada lubang penindasan asmara yang
familiar disebut buaya darat. Buaya darat disini tidak mengenal gender bisa si
laki-laki atau perempuan, misal: dalam sebuah hubungan tidak ada kesepakatan
baik secara langsung maupun tidak langsung , atau malah tidak ada kesepakatn
sama sekali, dan keduanya tak saling memahami, maka yang terjadi dalam jangka
waktu tertentu bisa saja si perempuan men-judge si laki-laki tukang PHP, atau buaya darat dsb. Atau si
laki-laki men-judge si perempuan playgirl, matre dst. So’ kalian
harus waspada guys!
Muara
akhir pasangan penganut madzab ini jika
sudah sama-sama siap untuk menikah mereka akan menikah, tapi jika dalam
perjalanannya mereka tidak memungkinkan untuk menikah entah karena tidak dapat
restu otang tua seperti kisah Mas Pur, atau kepenggak hitungan Jawa dst,
masing –masing dari pasangan ini akan berkeyakinan bahwa memang mereka tidak
ditakdirkan berjodoh oleh Tuhan. Sesimpel itu!. Patah hati? Tentu, tapi
penganut Dinamisme – Fleksibilitas tak akan galau berkepanjangan, segera move
on cari yang lain dan yang se mahdzab tentunya. Gimana dek, mau sama mas ikut
madzab itu? Hehehe.
Gagasannya menarik, tapi isinya kurang memprovokasi pembacanya.
BalasHapusmkasih komentarnya mas hehe
Hapus