Dalam
lawatanku ke Jogja kali ini, tak ada dalam benakku untuk sekedar mampir atau
berkunjung ke tempat –tempat wisata, bahkan sekedar ke Malioboro pun.
Pengorbanan meninggalkan peluang pekerjaan dengan gaji UMR harus kuganti dengan
semangat antusiasme tinggi fokus mengikuti sekolah agraria di UGM ini pikirku.
Dan benar saja! tidak rugi mengikuti sekolah
agraria ini. Riset agraria perspektif analisis kelas yang selama ini sebenarnya
sudah akrab ditelinga. Namun belum begitu ku mengerti apa itu subtansinya,
akhirnya dikesempatan ini disampaikan dengan sangat baik oleh bung Habibi.
Mulai
dari latar belakang pentingnya mengapa menggunakan perspektif ini hingga
langkah –langkah praksisnya. Perpespektif yang beberapa dekade silam digunakan
oleh para pendahulu kita dalam risetnya yang tergabung dalam Barisan Tani
Indonesia (BTI). Riset yang menghasilkan klasifikasi tujuh setan desa dan juga
alat pengorganisiran pendudukan lahan karena lambatnya proses land reform
hingga akhirnya “selesai” setelah peristiwa pembantaian massal 65.
Setelah
3 hari yang menguras fisik dan fikiran. Malam hari setelah sesi terakhir ,aku
putuskan untuk langsung pulang. Namun karena ada permintaan dari Adet (teman
boncengan) dan beberapa kawan dari Jombang serta Jogja kami memutuskan untuk mampir Insist. Dengan agak berat hati
aku iyakan. Berat hati disini karena emang badan sudah sangat capek untungnya
arah ke Insist sejalur dengan arah pulang kami
Dengan
panduan google maps kami menelusuri kec Kaliurang, sempat beberapa kali kesasar kami akhirnya menemukan kantornya. Memang
agak terpencil di kawasan persawahan. Kami disambut hangat oleh penjaga kantor.
Mas Udin namanya, perawakannya
sederhana, bibir kehitam-hitaman dengan sesekali menghisap rokok lintingan
mengindikasikan mas Udin perokok berat.
Sekilas
aku mengira beliau hanya sekedar penjaga kantor dan pembuat kopi untuk para
tamu – tamu insist. Di pendopo Mansour Fakih kami dipersilahkan, setelah
obrolan panjang-mengalir sedikit-demi sedikit terkuak siapa sosok mas Udin.
“Mas
udin yang jaga kantor ini?” tanyaku
tanpa tedeng aling-aling. ”Haha ya sambil bantu-bantu mas,ngedit-ngedit
dikit”. Setelah mengulik lebih jauh ternyata dia adalah pimred
Insistpress, dengan segala karyanya yang menjadi bacaan kritis lingkarang
aktivis hari ini, tentu Mas Udin bukan “orang sembarangan”.
Selain
editor ,beliau juga penerjamah buku-buku terbitan insistpress. “Menaja Jalan”
salah satu hasil editan terbarunya. Tak heran, menilik latar belakangnya yang
pernah menjadi Pimpinan Umum Balirung
(LPM UGM). Namun sebelum di Insist ia sempat beekrja di BUMD.
“
tapi berat mas kerja disitu, aku
akhirnya keluar dari BUMD” akunya. “berat kenapa mas?” tanyaku menyelidik. “ya waktu
itu ada satu konflik yang melibatkan warga dan posisiku menjadi perantara
pemodal,aku gak kuat mas”.
Mungkin semacam pergulatan batin, jika dia mau kaya bisa saja tapi batinnya menolak, sempat mengaggur beberapa bulam akhinya mas udin masuk ke Insistpres. Mungkin banyak mas Udin-Udin lain diluar sana yang tak terekam sejarah kiprahnya untuk umat.
Pikiranku
tiba-tiba melayang, aku berfikir sekaligus bertanya? Apakah kerja-kerja
“keabadian” seperti mas udin ini akan dicatat sejarah? Tak banyak koar-koar
tapi produktif menulis dan menerjemahkan referensi-referensi kritis untuk
sumbangsih gerakan. Di akhir kami sempatkan untuk membeli satu-dua buku untuk
bekal pulang. Beruntung kami karena harganya didiskon 40% “ nggak mungkin aku
jual dengan harga yang sama mas,nanti dimarahin senior-seniormu” candanya
sambil tertawa lepas. Semoga bisa bersua kembali Mas.
0 komentar:
Posting Komentar