Rabu, 11 September 2019

Mas Udin dan Aktivisme



Dalam lawatanku ke Jogja kali ini, tak ada dalam benakku untuk sekedar mampir atau berkunjung ke tempat –tempat wisata, bahkan sekedar ke Malioboro pun. Pengorbanan meninggalkan peluang pekerjaan dengan gaji UMR harus kuganti dengan semangat antusiasme tinggi fokus mengikuti sekolah agraria di UGM ini pikirku.

Dan benar saja! tidak rugi mengikuti sekolah agraria ini. Riset agraria perspektif analisis kelas yang selama ini sebenarnya sudah akrab ditelinga. Namun belum begitu ku mengerti apa itu subtansinya, akhirnya dikesempatan ini disampaikan dengan sangat baik oleh bung Habibi.

Mulai dari latar belakang pentingnya mengapa menggunakan perspektif ini hingga langkah –langkah praksisnya. Perpespektif yang beberapa dekade silam digunakan oleh para pendahulu kita dalam risetnya yang tergabung dalam Barisan Tani Indonesia (BTI). Riset yang menghasilkan klasifikasi tujuh setan desa dan juga alat pengorganisiran pendudukan lahan karena lambatnya proses land reform hingga akhirnya “selesai” setelah peristiwa pembantaian massal 65.

Setelah 3 hari yang menguras fisik dan fikiran. Malam hari setelah sesi terakhir ,aku putuskan untuk langsung pulang. Namun karena ada permintaan dari Adet (teman boncengan) dan beberapa kawan dari Jombang serta Jogja kami memutuskan  untuk mampir Insist. Dengan agak berat hati aku iyakan. Berat hati disini karena emang badan sudah sangat capek untungnya arah ke Insist sejalur dengan arah pulang kami

Dengan panduan google maps kami  menelusuri kec Kaliurang, sempat beberapa kali kesasar kami akhirnya menemukan kantornya. Memang agak terpencil di kawasan persawahan. Kami disambut hangat oleh penjaga kantor. Mas Udin  namanya, perawakannya sederhana, bibir kehitam-hitaman dengan sesekali menghisap rokok lintingan mengindikasikan mas Udin perokok berat.
Sekilas aku mengira beliau hanya sekedar penjaga kantor dan pembuat kopi untuk para tamu – tamu insist. Di pendopo Mansour Fakih kami dipersilahkan, setelah obrolan panjang-mengalir sedikit-demi sedikit terkuak siapa sosok mas Udin.

“Mas udin yang jaga kantor ini?”  tanyaku tanpa tedeng aling-aling. ”Haha ya sambil bantu-bantu mas,ngedit-ngedit dikit”. Setelah mengulik lebih jauh ternyata dia adalah pimred Insistpress, dengan segala karyanya yang menjadi bacaan kritis lingkarang aktivis hari ini, tentu Mas Udin bukan “orang sembarangan”.

Selain editor ,beliau juga penerjamah buku-buku terbitan insistpress. “Menaja Jalan” salah satu hasil editan terbarunya. Tak heran, menilik latar belakangnya yang pernah menjadi Pimpinan Umum  Balirung (LPM UGM). Namun sebelum di Insist ia sempat beekrja di BUMD.
“ tapi berat  mas kerja disitu, aku akhirnya keluar dari BUMD” akunya. “berat kenapa mas?” tanyaku menyelidik. “ya waktu itu ada satu konflik yang melibatkan warga dan posisiku menjadi perantara pemodal,aku gak kuat mas”.

Mungkin semacam pergulatan batin, jika dia mau kaya bisa saja tapi batinnya menolak, sempat mengaggur beberapa bulam akhinya mas udin masuk ke Insistpres. Mungkin banyak mas Udin-Udin lain diluar sana yang tak terekam sejarah kiprahnya untuk umat.


Pikiranku tiba-tiba melayang, aku berfikir sekaligus bertanya? Apakah kerja-kerja “keabadian” seperti mas udin ini akan dicatat sejarah? Tak banyak koar-koar tapi produktif menulis dan menerjemahkan referensi-referensi kritis untuk sumbangsih gerakan. Di akhir kami sempatkan untuk membeli satu-dua buku untuk bekal pulang. Beruntung kami karena harganya didiskon 40% “ nggak mungkin aku jual dengan harga yang sama mas,nanti dimarahin senior-seniormu” candanya sambil tertawa lepas. Semoga bisa bersua kembali Mas.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar