Kamis, 18 Februari 2021

Mongkrang 2194 Mdpl: Pengalaman Pertama Kali Muncak.

Aku masih ingat betul tanggal 2 Januari malam, salah satu dari kami memberi kode tipis dengan intonasi setengah bertanya “bar iki gas lawu wani po ra ki?” beberapa detik tak ada suara,hanya angin kencang bukit Pringgitan yang terde
ngar. Nampaknya 5 pemuda pecinta alam amatiran ini tahu, modal semangat saja tidak cukup untuk menyusuri gunung Lawu, apalagi salah satu dari 5 pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah saya baru saja bertungkus lumus jatuh bangun untuk mencapai puncak pringgitan yang tingginya hanya sekitar 600 Mdpl.

sek golek gunung sing rodok cendek gawe pemanasan lur”jawabku setengah berasalan.

“cumbri opo mongkrang?, kui pilihane” Rizki memberi opsi. Tak butuh debat panjang untuk memilih Mongkrang. Selain satupun dari kami belum pernah kesana, mongkrang konon menjanjikan pemandangan lawu yang menjadi tujuan akhir kami.

Tanggal 6 Februari kami sepakat untuk memberi notifikasi pada gawai masing-masing sebagai tanda hari itu adalah hari dimana kami memulai perjalanan. Satu anggota bernama Is menggenapi satu tim kami. Aku,Is, Huda, Rizki, Angga, Khoiron.

Seminggu menjelang pemberangkatan hampir setiap obrolan WA grup selalu mengingatkan tentang persiapan muncak. Kalau dalam istilah jawa Wis koyok iyok yok o!.

Hari yang ditunggu-tunggu datang, kami memulai perjalanan, sampai camp registrasi kami pukul 20.00 Wib. Sebelum sampai camp kami menyempatkan mengisi perut diwarung terdekat dan salat maghrib – isya.

Perjalanan kami diiringi dua perempuan yang kebetulan sudah hafal jalur ini. Di awal perjalanan saya nampak tidak ada kendala, tidak seperti sebelumnya yang sedikit dikit  minta istirahat. Sampai pada separuh lebih perjalanan tiba-tiba saya merasa mual seperti akan mengeluarkan sesuatu dan sooooorrrr muntahan tak bisa lagi dihindari. Ingatan saya melayang pada salah satu kawan di Semarang yang pernah cerita bahwa pertama kali ia muncak ia mengalami muntah diperjalanan, tapi setelah itu badan enteng katanya.

Hal itu juga yang saya rasakan, badan langsung terasa enteng meskipun faktor pergantian tas ransel ringan juga mempengaruhi.

Setelah perjalanan sekitar dua jam, puncak akhirnya kami gapai, sangat capek dan sesekali nafas tersengal. Namun recovery saya terhitung cepat, itu dibuktikan dengan saya langsung ikut bantu mendirikan tenda. Tidak demikian dengan Khoiron, dari awal ia nampak kurang sehat, sakit memang sudah ia idap 2 hari sebelum muncak. Walhasil setelah tenda berdiri ia langsung tidur

Kami segera masak sosis dan menyeduh kopi sambil sesekali menggunjingkan keadaan. Saya orang kedua yang tidur setelah Khoiron. 

Sayup-sayup pengajian gus Baha terdengar dari mp3 salah satu kawan, ketika pengajian berhenti saya kembali terjaga. Seakan berhentinya lantunan ceramah tadi seperti selimut yang ditarik dari balutan tubuhku.

Aku bangkit, begitupun Angga yang tidur disampingku “ jam piro iki?” tanyanya.

 

sek jam telu Ngga” jawabku.”Kawit mau kok jam telu wae” keluh Angga sambil menunjukkan ekspresi menggigil yang tak bisa ia sembunyikan.

turuo sek am telu ki”  tukas Riski. “la iyo” Huda menimpali dengan ekspresi terganggu atas kegaduhan kami berdua.

Angga terus mengajakku bercanda sambil merapartkan dada dan lututnya, tangannya melingkar mengitari kedua kakinya yang ia tekuk rapat-rapat. Sementara kami bertiga aku, Huda dan Riski tetap dalam posisi berbaring.

Angin kencang disertai embun deras memang mewarnai malam kami, tenda kami basah, air sedikit meresap. Pakaian yang kami memang tak sampai basah namun dingin terasa masuk hingga ke sendi-sendi tulang.

mapano kene lo Ngga” pintaku pada Angga untuk segera tidur kembali, ia tidak mau dengan alasan tepat di atas alas tidurnya terdapat akar pohon timbul ke atas permukaan tanah yang mengngganjal punggungnya. Ada ada saja batinku.

Setelah itu tiba-tiba aku terbangun lagi, mendapati langit mulai cerah, namun kabut sangat tebal. Ekspektasi pemandangan lawu yang kami impikan jauh-jauh hari tak tampak. Harapan itu sirna, meskipun kabut sempat tersibak untuk menujukkan indahnya pemandangan lawu yang indah pada kami, nyatanya itu tak berlangsung lama dan tidak sempat mengabadikannya. Biarlah mata dan memori ini yang mengabadikan untuk sesekali kami ingat dikemudian hari.

Waktu menunjukkan pukul 08.30 WIB meskipun registrasi kami sampai pukul 10.00 wib kami melihat para pedndaki di sekliling kami mulai mengemas tenda kabutpun menunjukkan tidak ada tanda – tanda untuk hilang. Akhirnya kami turut bergegas, bareng bareng turun.

Lima menit perjalanan, turun gerimis dengan intensitas sedang mengiringi kami, aku dan Huda sempat berbincang bahwa gerimis ini efek dari kabut tebal. Tak berselang lama ternyata dugaan kami salah.

Tanpa aba-aba hujan turun dengan sangat lebat, kami bergegas mengamankan gawai, tas serta memakai mantel, awalnya aku tak yakin kami turun dengan keadaan hujan deras ditambah Khoiron sudah tiga kali terjatuh. Akhirnya Is salah satu kawan paling berpengalaman perihal naik gunung meykainkan bahwa kami bisa turun dengan menapaki aliran air untuk menghindari medan licin. Setapak demi setapak kami melewati medan curam.

Ditengah perjalanan badai angin berhembus kencan kami meutuskan istirahat bersamaan dengan rombongan lain. Setelah  dirasa cukup aman, kami melanutkan perjalanan hingga tak terasa pos regitstrasi di depan mata. Di depan gerbang kami sempatkan berswafoto. Hujan saat itu masih lumayan deras dan kami memutuskan langsung pulang. Sekian   

 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar