“sek
golek gunung sing rodok cendek gawe pemanasan lur”jawabku setengah
berasalan.
“cumbri
opo mongkrang?, kui pilihane” Rizki
memberi opsi. Tak butuh debat panjang untuk memilih Mongkrang. Selain satupun
dari kami belum pernah kesana, mongkrang konon menjanjikan pemandangan lawu
yang menjadi tujuan akhir kami.
Tanggal
6 Februari kami sepakat untuk memberi notifikasi pada gawai masing-masing
sebagai tanda hari itu adalah hari dimana kami memulai perjalanan. Satu anggota bernama Is menggenapi satu tim kami. Aku,Is, Huda, Rizki, Angga, Khoiron.
Seminggu
menjelang pemberangkatan hampir setiap obrolan WA grup selalu mengingatkan
tentang persiapan muncak. Kalau dalam istilah jawa Wis koyok iyok yok o!.
Hari
yang ditunggu-tunggu datang, kami memulai perjalanan, sampai camp registrasi
kami pukul 20.00 Wib. Sebelum sampai camp kami menyempatkan
mengisi perut diwarung terdekat dan salat maghrib – isya.
Perjalanan
kami diiringi dua perempuan yang kebetulan sudah hafal jalur ini. Di awal
perjalanan saya nampak tidak ada kendala, tidak seperti sebelumnya yang sedikit
dikit minta istirahat. Sampai pada
separuh lebih perjalanan tiba-tiba saya merasa mual seperti akan mengeluarkan
sesuatu dan sooooorrrr muntahan tak bisa lagi dihindari. Ingatan saya
melayang pada salah satu kawan di Semarang yang pernah cerita bahwa pertama
kali ia muncak ia mengalami muntah diperjalanan, tapi setelah itu badan enteng
katanya.
Hal
itu juga yang saya rasakan, badan langsung terasa enteng meskipun faktor
pergantian tas ransel ringan juga mempengaruhi.
Setelah
perjalanan sekitar dua jam, puncak akhirnya kami gapai, sangat capek dan
sesekali nafas tersengal. Namun recovery saya terhitung cepat, itu
dibuktikan dengan saya langsung ikut bantu mendirikan tenda. Tidak demikian
dengan Khoiron, dari awal ia nampak kurang sehat, sakit memang sudah ia idap 2
hari sebelum muncak. Walhasil setelah tenda berdiri ia langsung tidur
Kami segera masak sosis dan menyeduh kopi sambil sesekali menggunjingkan keadaan. Saya orang kedua yang tidur setelah Khoiron.
Sayup-sayup pengajian gus Baha terdengar dari mp3 salah satu kawan, ketika pengajian berhenti saya kembali terjaga. Seakan berhentinya lantunan ceramah tadi seperti selimut yang ditarik dari balutan tubuhku.
Aku
bangkit, begitupun Angga yang tidur disampingku “ jam piro iki?”
tanyanya.
“sek
jam telu Ngga” jawabku.”Kawit mau kok jam telu wae” keluh Angga
sambil menunjukkan ekspresi menggigil yang tak bisa ia sembunyikan.
“turuo
sek am telu ki” tukas Riski. “la
iyo” Huda menimpali dengan ekspresi terganggu atas kegaduhan kami berdua.
Angga
terus mengajakku bercanda sambil merapartkan dada dan lututnya, tangannya
melingkar mengitari kedua kakinya yang ia tekuk rapat-rapat. Sementara kami
bertiga aku, Huda dan Riski tetap dalam posisi berbaring.
Angin
kencang disertai embun deras memang mewarnai malam kami, tenda kami basah, air
sedikit meresap. Pakaian yang kami memang tak sampai basah namun dingin terasa
masuk hingga ke sendi-sendi tulang.
“mapano
kene lo Ngga” pintaku pada Angga untuk segera tidur kembali, ia tidak mau
dengan alasan tepat di atas alas tidurnya terdapat akar pohon timbul ke atas permukaan tanah yang mengngganjal
punggungnya. Ada ada saja batinku.
Setelah
itu tiba-tiba aku terbangun lagi, mendapati langit mulai cerah, namun kabut
sangat tebal. Ekspektasi pemandangan lawu yang kami impikan jauh-jauh hari tak
tampak. Harapan itu sirna, meskipun kabut sempat tersibak untuk menujukkan
indahnya pemandangan lawu yang indah pada kami, nyatanya itu tak berlangsung
lama dan tidak sempat mengabadikannya. Biarlah mata dan memori ini yang
mengabadikan untuk sesekali kami ingat dikemudian hari.
Waktu
menunjukkan pukul 08.30 WIB meskipun registrasi kami sampai pukul 10.00 wib
kami melihat para pedndaki di sekliling kami mulai mengemas tenda kabutpun
menunjukkan tidak ada tanda – tanda untuk hilang. Akhirnya kami turut bergegas,
bareng bareng turun.
Lima
menit perjalanan, turun gerimis dengan intensitas sedang mengiringi kami, aku
dan Huda sempat berbincang bahwa gerimis ini efek dari kabut tebal. Tak
berselang lama ternyata dugaan kami salah.
Tanpa
aba-aba hujan turun dengan sangat lebat, kami bergegas mengamankan gawai, tas
serta memakai mantel, awalnya aku tak yakin kami turun dengan keadaan hujan
deras ditambah Khoiron sudah tiga kali terjatuh. Akhirnya Is salah satu kawan
paling berpengalaman perihal naik gunung meykainkan bahwa kami bisa turun
dengan menapaki aliran air untuk menghindari medan licin. Setapak demi setapak
kami melewati medan curam.
Ditengah
perjalanan badai angin berhembus kencan kami meutuskan istirahat bersamaan
dengan rombongan lain. Setelah dirasa
cukup aman, kami melanutkan perjalanan hingga tak terasa pos regitstrasi di
depan mata. Di depan gerbang kami sempatkan berswafoto. Hujan saat itu masih
lumayan deras dan kami memutuskan langsung pulang. Sekian
0 komentar:
Posting Komentar