Subuh menjelang fajar menyingsing, kabar duka kembali
menghampiri. “Pak Dari wafat” dikirim pukul 01.00 WIB dini hari oleh keponakan.
Seketika imaji saya melayang pada sosok tubuh besar, tegap,kokoh bak patung
dewa Yunani. Anak – anak muda NU di kampung memanggilnya “Ndan Sido”.
Beberapa hari terakhir beliau memang isolasi mandiri,
kurang tahu pasti dari mana beliau tertular, yang pasti hampir setiap RT di
kampung kami ada yang sakit, kebanyakan dari mereka inisiatif isolasi mandiri.
Ada yang sembuh, beberapa menghadap sang Khaliq.
Saya dan kawan-kawan Anshor sekitar seminggu yang lalu baru saja
mengirimkan bantuan sembako dari NU ditujukan kepada warga yang isolasi
mandiri, salah satunya beliau.
“matur suwun lo mas”
frasa yang rasa-rasanya baru kemarin diucapkan beliau pada kami. Bahkan belum
ada satu bulan rasanya beliau mengundang saya untuk ikut tahlilan 7 hari wafat
adiknya, selang 21 hari kakaknya ikut menyusul “pulang”.
Pagi dinihari tadi Pak Dari menyusul kedua saudaranya.
Bagi saya pak Dari sosok yang ramah. Kecintaannnya pada Kiai dan NU tiada
tanding. Sepanjang hayatnya ia dedikasikan waktu fikiran dan tenaganya untu NU.
Darinya, terpancar aura ketulusan dalam berkhidmah
untuk NU.
Gus Dur dalam sebuah wawancara mengatakan “NU itu ya
Kiai-Kiai kampung itu, orang yang berjuang tulus ngurus NU “. Kiai Kampung atau
dan mereka akivis NU di kampung bagi Gus Dur barangkali relatif terhindar dari
kepentingan politik praktis.
Penekanannya bukan pada aspek geografisnya (kampung)
melainkan pada ketulusunnya dalam berjuang.
Saya melihat deskripsi Gus Dur di atas pada sosok pak Dari. Beliau adalah apa yang didefinisikan Gus Dur sebagai mereka yang berjuang dengan tulus untuk NU,lebih luas untuk kebaikan.
Suwargi langgerng Ndan Sidu, mohon kirim salam buat
bapak. Alfaatihah.
Polorejo 7 Agustus 2021.
0 komentar:
Posting Komentar