Hidup berjalan dari satu fase ke fase selanjutnya. Bagiku dalam menentukan fase kehidupan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya; umur,finansial, dan mental. Lelaki kelahiran 1995 seperti diriku umumnya mulai berfikir untuk menikah,termasuk diriku. Sambil menjalani aktifitas sehari-hari diriku mempertimbangkan hal-hal di atas.
Namun uniknya semakin ke sini pertimbangan di atas jauh dari kata ideal. Sementara dalam benakku kerapkali bertanya apakah semuanya harus ideal menurut kita?, apakah ideal yang kita impikan adalah ideal yang “hakiki”?, bagaimana jika ideal itu pada kenyataannya tidak pernah terwujud? Apakah diriku tak akan menikah?
Akhirnya muara dari pertanyaan-pertanyaan duniawi di atas mengarah pada satu jawaban yang cukup menentramkan hati. Niatkan menikah untuk ibadah selamanya, maka niscaya Tuhan akan menatanya.
Akhirnnya mantap Bismillah, menikah!.
Problem berikutnya siapa calonnya?
Mencari Jodoh Melalui Wasilah Kawan.
Masa remaja pendidikanku kulalui di salah satu pesantren di Ponorogo – kuliah merantau di ibukota Jawa Tengah. Di pesantren tentu belum ada fikiran menikah, adapun kenalan perempuan di Semarang rata-rata rumahnya di wilayah Jawa Tengah sementara jauh hari ibu pernah berpesan untuk mencari istri yang domisilinya relatif dekat dengan rumahku.
Alasannya, pertama ibu ingin dekat dengan besan, kedua ibu tak ingin anaknya ketika pulang kampung tak keberatan waktu, tenaga dan biaya. Pulang kuliah tidak ada circle yang memungkinkan diriku kenal dengan perempuan, akhirnya aku minta tolong teman-temanku untuk mengenalkan teman perempuannya.
Sambut bergayung beberapa kawan, bahkan sanak keluarga “menawarkan” kenalan. Semua proses kujalani dalam rangka ikhtiar mencari jodoh, hingga akhirnya dipertemukan dengan perempuan yang kelak jadi calon istriku, “dia ngabdi di pondok al-kholili” begitulah awal tawaran perkenalan itu. seorang kawan yang kebetulan tetanggaku mengenalkan temannya, selebihnya saya telisik sendiri.
Awalnya yang bersangkutan tidak berkenan untuk kenalan dengan alasan masih belum selesai belajar di pondok, dan waktu itu pikirku ya sudah jika yang bersangkutan tidak berkenan. Toh, tak elok jika memaksakan kehendak.
Beberapa minggu setelahnya saya iseng melihat status instagramnya dan mengirim pesan langsung. Alhamdulillah dari situ kita awal mula berbalas pesan. Kami semakin intens berbalas pesan. Dia melihat instagramku difollow mbak Ratna, kebetulan dia juga kenal yang bersangkutan. Mbak Ratna ini dulu kakak kelas dua tahun di atasku, kami kenal karena sama-sama pernah mengemban amanah ketua OSIS.
Dari mbak Ratna kutahu banyak hal tentangnya dan lewat beliau pula saya utarakan niat untuk kenal serius. Jika cocok lanjut membicarakan prospek berjodoh, kalau tidak ya cukup menjadi teman. Alhamdulillah berkat rekomendasi mbak Ratna, sang calon berkenan berkenalan lebih jauh dalam rangka ikhtiar berjodoh. Awalnya kami berbincang lewat gawai- whatsapp setelah dirasa punya kecocokan kami memtutuskan untuk bertemu.
Sebelum memutuskan bertemu, kami menjalin kesepakatan bahwa kita akan membicarakan apapun yang perlu dibicarakan dalam rangka mengijmaniaskan what if kita menikah? Cocokkah? Mulai dari latar belakang pendidikan kami, keluarga, pekerjaan, kondisi keuangan, apakah masing-masing punya hutang dalam jumlah besar?, dsb. Termasuk dalam aspek fisik-sifat apakah kami menerima masing-masing kekurangan?. jika kami tidak cocok, maka salah kami harus segera mengutarakan, pun sebaliknya jika cocok segera konfirmasi.
Insecure
Kami bertemu di salah satu kafe dekat pusat kota, dia datang terlebih dahulu karena ada tanggungan nembel kitab, sementara diriku sibuk menyiapkan kegiatan pengajian di masjid Dusun. Terik matahari menemani perjalananku bertemu dengannya. Untungnya kami bertemu di kafe dengan fasilitas AC, lumayan membantu sedikit menyamarkan muka kusamku.
Bergamis hitam, berkaca-mata, khusuk dengan kitabnya. Kulitnya putih bersih, wajahnya ayu dengan hiasan make-up tipis. ”Maaf ya telat” ucapku mengawali pembicarakan. Kami ngobrol sekitar satu setengah jam, dari isi obrolan kami, dia cukup dewasa, dan yang paling melegakan kami nyambung satu sama lain ketika ngobrol. Cantik, pintar, mandiri. Sementara diriku? insecure.
Malam hari aku ikhtiar salat istikharah, beberapa kali, namun petunjuk tak kunjung datang. Hatiku mencoba untuk tenang, disuatu kesempatan diriku teringat satu cuplikan pesan almaghfurlah K.H Idris Marzuqi Lirboyo. Jika merasa cocok satu sama lain, langsung lamar tak perlu istikharah. Saya mantap, tapi dia apakah merasakan hal yang sama denganku?.
Beberapa hari berselang aku menanyakan tentang kelanjutan hubungan kami. Dia mengaku tidak hal yang membuatnya tidak melanjutkan hubungan ini. Ya Tuhan alhamdulillah, batinku tak henti merapal syukur. Akhirnya aku menemukan orang yang aku cintai dan mencintaiku, meskipun restu berlapis harus kami tempuh, setidaknya kami siap berkomitmen menuju halal. Bersambung.
0 komentar:
Posting Komentar