Selasa, 23 Juli 2019

Bangga Sih Nggak, Lega Iya!



            Tepat tanggal 22 Juli 2019 aku selesai sidang skripsi. Momen yang beberapa hari terakhir membuatku tak bisa tidur. Hal yang sebenarnya malas ku pikirkan tapi kenyataannya sidang “konyol” ini membuatku tertekan secara psikologis cieee (ciee matamu!).
            Dalam tulisan ini aku akan bercerita tentang sedikit prosesku mengerjakan skripsi. Proses yang sebenarnya tak “berdarah-darah” banget terutama jika dibandingkan dengan Ayyik kawan seperjurususanku (kapan –kapan episode Ayyik  kuceritakan). Awalnya ketika kepikiran judul skripsi tepatnya semester 7 ( kalau ndak salah) imajinasiku langsung melayang pada hal-hal yang berbau riset lapangan (field research) dan non-eksakta. Mengapa demikian? Pertama aku malas buka-buka buku terkait ilmu falak. Kedua aku gak bisa hitung-hitungan sesederhana itu guys.
            Semester 9 aku baru benar –benar memikirkan yang namanya “mahluk” skripsi ini, setelah tak tahan gempuran pressure keluarga. Waktu itu aku mengincar aliran-aliran agama Islam dan penghayat kepercayaan yang kiranya mempunyai metode berbeda dalam menentukan awal bulan atau waktu salat, singkatnya setelah beberapa kali kesempatan tanya-tanya ke beberapa ormas dan penganut kepercayaan terkait, aku tak kunjung mendapatkan isnpirasi judul. Problemnya banyak mulai dari sudah ada yang mengkaji sampai aku sendiri yang nggak yakin.
            Sampai suatu saat ada kawan yang memberitahuku (kalau tak dibilang memotivasiku) untuk menanyakan sebuah kitab falak baru yang dikarang oleh ustad muda asal Kediri, dia meyakinkanku bahwa nggak bisa hitung-hitungan ndak masalah, banyak kawan yang bisa dijadikan “pembimbing bayangan” termasuk dirinya yang siap mewakafkan waktu dan pikirannya untuk membantuku lulus.
            Akhirnya akupun luluh, segera ku eksekusi dengan menghubungi sang ustaz. Beliau memberikan izin dan akupun mulai mengerjakan, aku datang ke kediaman beliau melakukan wawancara (sekedar formalitas,la wong gak begitu paham juga hahaha) aku juga  mengajak satu kawan yang kuanggap cukup otoritatif babakan perhitungan falak untuk ikut mewawancarai sang pengarang kitab. 
            Mengenai kitabnya sendiri sekilas tak begitu istimewa (hal ini dikuatkan pendapat beberapa kawan-kawan yang otoritatif babakan Falak) tak ada pemikiran yang orisinil dari penganggit, beliau meminjam beberapa rumus dan data dalam beberapa kitab “babon” untuk kemudian diramu menjadi satu metode utuh. Secara penulisanpun terbilang kurang metodologis beberapa aspek tidak mencantumkan sumbernya,.
            Tapi peduli apa bagi mahasiswa tua renta  yang sudah kekepet lulus seperti saya, selagi judul sudah masuk jurusan langsung tancap gas aja pikirku. Januari 2019 aku masuk bab 2, sempat kepending sebulan karena aku terserang demam berdarah, Maret awal ku mulai mengerjakan lagi.
            Tepat disini problem benar-benar kutemukan. Iya. Perhitungan!. Kepada siapa aku mengadu problem ini? sementara orang yang dulu meyakinkaku sudah lulus dan kembali ke rumah. Tidak mungkin juga aku ganti judul, karena memasukan judul ke jurusan tak semudah membalikan telapak tangan, apalagi bagi mahasiswa falak yang tak cinta falak seperti aing ini.
            Setelah lari ke sana-kemari akhirnya kutemukan dua sosok “malaikat” sebut saja namanya Alfan dan mas Riza, doi berdua yang membimbingku terkait tetek-bengek  perhitungan yang ada di skripiku. Semoga Tuhan memberi balasan setimpal atas kebaikan kalian berdua.
            Setelah itu nyaris proses skipsiku berjalan tanpa hambatan, bimbingan lancar bahkan saking lancarnya pembimbing satuku langsung meng-acc skripsiku tanpa membaca J.  Sehari semalam aku digembleng presentasi skripsi oleh mas Riza, mas Farid, mas Jhon. Mereka mengulik celah –celah skripsiku yang berpotensi ditanyakan ketika sidang, sekaligus memberikan bocoran jawaban tentunya.
            Mereka juga yang meyakinkanku untuk siap mental, harus percaya diri, harus siap mempertahankan argumen, berani menjawab setidak tahu apapun aku tentang falak pokoknya jawab dengan tegas!. Begitu kira –kira pesan mereka. Mas Jhon pun tak ketinggalan dengan ejekan khasnya “ masa biasa ngisi materi kok grogi mau sidang skrips?”. Please mas, ini falak bukan agraria, ataupun materi sejarah!.
            Perlu diketahui sidang pembaca bahwa aku pun tak begitu mengerti skripsi yang kutulis, aku tak tahu apakah ini pengakuan terlarang atau bukan? yang jelas niatku hanya satu bahwa kelak kalau kalian memilih jurusan kuliah atau apapun itu,pilihlah yang sekiranya kalian mencintai jurusan itu. pilihlah dengan hati yang mantap serta pikiran yang jernih. Karena kalau tidak! salah satu implikasinya adalah kesulitan di tugas akhir.
            Akhirnya tiba dihari aku sidang, sesuai impianku, sidang yang sepi penonton, suasana sunyi. Hanya aku dan pengujiku. Aku presentasi dengan percaya diri, semua pertanyaan kujawab dengan (seakan-akan) mantap. Kecuali babakan perhitungan yang memang aku benar –benar tidak bisa, itupun aku tetap mencoba menghitung hingga akhirnya di skip penguji karena kelamaan. Setelah sidang diskorsing saya diminta keluar, dua menit kemudian dipanggil penguji yang juga pembimbing duaku nan baik hati. “Han ayok masuk” pintanya. “Gimana bu, luluskah?”. Beliau mengangguk pelan. ALHAMDULILLAH batinku menjerit.
            Setelah semalaman terbayang-bayang tragedi kawan sejawatku yang gagal lulus karena terganjal penulisan skripsi yang katanya tidak memenuhi standart metode penelitian (padahal paling tebal se-angkatan) kukira kawan-kawanku yang lain pasca tragedi itu akan merasakan hal yang sama. Dan akhirnya aku lulus. Bangga sih nggak, lega iya!.   
             

Share:

1 komentar: