Tepat tanggal 22
Juli 2019 aku selesai sidang skripsi. Momen yang beberapa hari terakhir
membuatku tak bisa tidur. Hal yang sebenarnya malas ku pikirkan tapi
kenyataannya sidang “konyol” ini membuatku tertekan secara psikologis cieee
(ciee matamu!).
Dalam tulisan ini
aku akan bercerita tentang sedikit prosesku mengerjakan skripsi. Proses yang
sebenarnya tak “berdarah-darah” banget terutama jika dibandingkan dengan Ayyik
kawan seperjurususanku (kapan –kapan episode Ayyik kuceritakan). Awalnya ketika kepikiran judul
skripsi tepatnya semester 7 ( kalau ndak salah) imajinasiku langsung melayang
pada hal-hal yang berbau riset lapangan (field research) dan
non-eksakta. Mengapa demikian? Pertama aku malas buka-buka buku terkait
ilmu falak. Kedua aku gak bisa hitung-hitungan sesederhana itu guys.
Semester 9 aku
baru benar –benar memikirkan yang namanya “mahluk” skripsi ini, setelah tak
tahan gempuran pressure keluarga. Waktu itu aku mengincar aliran-aliran
agama Islam dan penghayat kepercayaan yang kiranya mempunyai metode berbeda
dalam menentukan awal bulan atau waktu salat, singkatnya setelah beberapa kali
kesempatan tanya-tanya ke beberapa ormas dan penganut kepercayaan terkait, aku
tak kunjung mendapatkan isnpirasi judul. Problemnya banyak mulai dari sudah ada
yang mengkaji sampai aku sendiri yang nggak yakin.
Sampai suatu saat
ada kawan yang memberitahuku (kalau tak dibilang memotivasiku) untuk menanyakan
sebuah kitab falak baru yang dikarang oleh ustad muda asal Kediri, dia
meyakinkanku bahwa nggak bisa hitung-hitungan ndak masalah, banyak kawan yang
bisa dijadikan “pembimbing bayangan” termasuk dirinya yang siap mewakafkan
waktu dan pikirannya untuk membantuku lulus.
Akhirnya akupun
luluh, segera ku eksekusi dengan menghubungi sang ustaz. Beliau memberikan izin
dan akupun mulai mengerjakan, aku datang ke kediaman beliau melakukan wawancara
(sekedar formalitas,la wong gak begitu paham juga hahaha) aku juga mengajak satu kawan yang kuanggap cukup
otoritatif babakan perhitungan falak untuk ikut mewawancarai sang pengarang
kitab.
Mengenai kitabnya
sendiri sekilas tak begitu istimewa (hal ini dikuatkan pendapat beberapa
kawan-kawan yang otoritatif babakan Falak) tak ada pemikiran yang orisinil dari
penganggit, beliau meminjam beberapa rumus dan data dalam beberapa kitab
“babon” untuk kemudian diramu menjadi satu metode utuh. Secara penulisanpun
terbilang kurang metodologis beberapa aspek tidak mencantumkan sumbernya,.
Tapi peduli apa
bagi mahasiswa tua renta yang sudah
kekepet lulus seperti saya, selagi judul sudah masuk jurusan langsung tancap
gas aja pikirku. Januari 2019 aku masuk bab 2, sempat kepending sebulan karena
aku terserang demam berdarah, Maret awal ku mulai mengerjakan lagi.
Tepat disini
problem benar-benar kutemukan. Iya. Perhitungan!. Kepada siapa aku mengadu
problem ini? sementara orang yang dulu meyakinkaku sudah lulus dan kembali ke
rumah. Tidak mungkin juga aku ganti judul, karena memasukan judul ke jurusan
tak semudah membalikan telapak tangan, apalagi bagi mahasiswa falak yang tak
cinta falak seperti aing ini.
Setelah lari ke
sana-kemari akhirnya kutemukan dua sosok “malaikat” sebut saja namanya Alfan
dan mas Riza, doi berdua yang membimbingku terkait tetek-bengek perhitungan yang ada di skripiku. Semoga
Tuhan memberi balasan setimpal atas kebaikan kalian berdua.
Setelah itu nyaris
proses skipsiku berjalan tanpa hambatan, bimbingan lancar bahkan saking
lancarnya pembimbing satuku langsung meng-acc skripsiku tanpa membaca J. Sehari semalam aku
digembleng presentasi skripsi oleh mas Riza, mas Farid, mas Jhon. Mereka
mengulik celah –celah skripsiku yang berpotensi ditanyakan ketika sidang,
sekaligus memberikan bocoran jawaban tentunya.
Mereka juga yang
meyakinkanku untuk siap mental, harus percaya diri, harus siap mempertahankan
argumen, berani menjawab setidak tahu apapun aku tentang falak pokoknya jawab
dengan tegas!. Begitu kira –kira pesan mereka. Mas Jhon pun tak ketinggalan
dengan ejekan khasnya “ masa biasa ngisi materi kok grogi mau sidang skrips?”. Please
mas, ini falak bukan agraria, ataupun materi sejarah!.
Perlu diketahui
sidang pembaca bahwa aku pun tak begitu mengerti skripsi yang kutulis, aku tak
tahu apakah ini pengakuan terlarang atau bukan? yang jelas niatku hanya satu
bahwa kelak kalau kalian memilih jurusan kuliah atau apapun itu,pilihlah yang
sekiranya kalian mencintai jurusan itu. pilihlah dengan hati yang mantap serta
pikiran yang jernih. Karena kalau tidak! salah satu implikasinya adalah
kesulitan di tugas akhir.
Akhirnya tiba
dihari aku sidang, sesuai impianku, sidang yang sepi penonton, suasana sunyi.
Hanya aku dan pengujiku. Aku presentasi dengan percaya diri, semua pertanyaan
kujawab dengan (seakan-akan) mantap. Kecuali babakan perhitungan yang memang
aku benar –benar tidak bisa, itupun aku tetap mencoba menghitung hingga
akhirnya di skip penguji karena kelamaan. Setelah sidang diskorsing saya
diminta keluar, dua menit kemudian dipanggil penguji yang juga pembimbing duaku
nan baik hati. “Han ayok masuk” pintanya. “Gimana bu, luluskah?”. Beliau mengangguk
pelan. ALHAMDULILLAH batinku menjerit.
Setelah semalaman
terbayang-bayang tragedi kawan sejawatku yang gagal lulus karena terganjal
penulisan skripsi yang katanya tidak memenuhi standart metode penelitian
(padahal paling tebal se-angkatan) kukira kawan-kawanku yang lain pasca tragedi
itu akan merasakan hal yang sama. Dan akhirnya aku lulus. Bangga sih nggak,
lega iya!.
heuheu...apik apik
BalasHapus